×
Ad

Banjir Nepal dan Ancaman Perubahan Iklim di Himalaya

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 28 Agu 2026 22:15 WIB
Foto: Al Jazeera
Jakarta -

Banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/8) mengungkap ancaman lain dari pemanasan global, pegunungan tinggi yang semakin tidak stabil.

Analisis satelit dan data seismik menunjukkan bencana tersebut dipicu runtuhnya bagian gletser dan batuan di Gunung Langtang Lirung, Himalaya. Material es, batu, lumpur, dan air kemudian meluncur ke sungai dan menghasilkan banjir besar ke wilayah hilir.

Peristiwa itu sempat diduga sebagai gempa berkekuatan magnitudo 4,4. Namun, US Geological Survey (USGS) kemudian menyimpulkan energi seismik tersebut justru berasal dari runtuhan gletser dan aliran material longsoran, yang menghasilkan getaran setara magnitudo 5,2.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa pemanasan global dapat mengubah kondisi pegunungan tinggi. Gletser dan lapisan permafrost selama ini berperan seperti perekat yang membantu menjaga kestabilan batuan di lereng gunung. Ketika suhu meningkat, es yang mengisi celah-celah batuan dapat mencair. Akibatnya, batuan yang sebelumnya terikat oleh es menjadi lebih mudah bergerak.

Dr Richard Waller, ahli geografi fisik dari Keele University, menggambarkan pegunungan tinggi seperti batuan yang retak-retak dan direkatkan oleh es.

"Ketika permafrost dan sambungan batuan yang dipenuhi es mencair, ada potensi terjadinya keruntuhan besar seperti ini," ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.

Dalam kasus Nepal, kondisi panas yang tidak biasa juga terdeteksi sebelum kejadian. Dr Hamish Pritchard dari British Antarctic Survey mengatakan suhu tanah di sekitar lokasi mencapai titik tertinggi dalam dua tahun, dua hari sebelum runtuhnya gletser.

Menurutnya, suhu tinggi tersebut dapat melemahkan lapisan salju, mengisi rekahan dengan air, serta mencairkan ikatan es dan batuan yang membantu menjaga gletser tetap stabil. Meski demikian, para ilmuwan berhati-hati untuk tidak menyebut perubahan iklim sebagai penyebab tunggal bencana Nepal.

Runtuhnya gletser merupakan pemicu langsung banjir, sementara mekanisme persis yang menyebabkan bagian gunung tersebut runtuh masih diteliti. Kondisi monsun yang membuat tanah jenuh air dan sungai membesar juga ikut memperburuk situasi. Namun, pemanasan global dapat menciptakan kondisi yang membuat lereng pegunungan lebih rentan.

"Perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat mengganggu kestabilan batuan dan es di pegunungan tinggi," kata peneliti Simon Cox dari Earth Sciences New Zealand.

Bahaya Bisa Berlanjut

Masalahnya tidak berhenti pada satu gletser yang runtuh. Ketika gletser terus menyusut, air lelehan dapat membentuk atau memperbesar danau gletser. Jika bendungan alami danau tersebut jebol, air dalam jumlah besar dapat mengalir tiba-tiba ke lembah dan memicu glacial lake outburst flood atau GLOF.

Para ilmuwan juga mengingatkan bahwa longsoran batu, runtuhan gletser, dan banjir dapat membentuk rantai bencana. Satu kejadian di ketinggian dapat mengirim material dalam jumlah besar ke sungai dan mengancam masyarakat puluhan kilometer di hilir.

Ancaman ini sangat penting bagi Asia karena banyak sungai besar berasal dari kawasan Himalaya. Ratusan juta orang bergantung pada sungai yang sumber airnya berasal dari gletser dan salju pegunungan.

Peristiwa Nepal menunjukkan bahwa sistem pemantauan bencana di pegunungan tidak cukup hanya mengandalkan deteksi gempa atau hujan. Gletser, permafrost, dan kestabilan lereng juga perlu dipantau karena perubahan kecil di kawasan tersebut dapat berkembang menjadi bencana besar.

"Longsoran dan banjir akan semakin banyak terjadi, terutama ketika danau-danau terbentuk di depan gletser yang terus menyusut," kata Pritchard seraya menambahkan bahwa sistem peringatan dini sangat mendesak untuk melindungi masyarakat yang tinggal di lembah-lembah pegunungan.



Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"

(rns/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork