Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Karhutla Kalimantan Disorot Dunia, Asap dan Emisi Meningkat

Karhutla Kalimantan Disorot Dunia, Asap dan Emisi Meningkat


Adi Fida Rahman - detikInet

Kabut asap karhutla di Jalan Trikora, depan Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarmasin, Jumat (21/8/2026).
Kabut asap karhutla di Jalan Trikora, depan Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarmasin, Jumat (21/8/2026).Foto: Khairun Nisa/detikKalimantan
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kini mendapat sorotan lembaga pemantau atmosfer dunia. Pemantauan satelit menunjukkan aktivitas kebakaran musiman di Indonesia meningkat, dibarengi kenaikan emisi kebakaran dan kabut asap regional.

Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), yang diimplementasikan oleh European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) untuk program observasi Bumi Uni Eropa Copernicus, merilis pemantauan terbaru mengenai kebakaran dan pergerakan asap di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

ECMWF merupakan pusat riset dan prakiraan cuaca global terkemuka. Data observasi, reanalisis, prakiraan dan model yang dikembangkannya digunakan secara luas dalam riset cuaca, atmosfer, dan iklim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Dalam laporan terbaru CAMS, Indonesia mendapat perhatian khusus setelah aktivitas kebakaran musiman mulai meningkat sejak akhir Juli 2026. Meski kebakaran pada periode kemarau bukan fenomena baru, CAMS mencatat kebakaran tahun ini lebih kuat dibanding beberapa tahun terakhir.

Kebakaran pada awalnya terutama terkonsentrasi di Pulau Borneo, khususnya Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Asap dan Emisi Meningkat

Copernicus tidak hanya memantau titik api. CAMS menggunakan Global Fire Assimilation System (GFAS) untuk mengamati aktivitas kebakaran dan memperkirakan emisi yang dilepaskan ke atmosfer.

GFAS memanfaatkan pengamatan satelit terhadap Fire Radiative Power (FRP) atau energi yang dilepaskan oleh kebakaran aktif. Data tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan intensitas kebakaran dan emisi dari pembakaran biomassa secara mendekati real-time.

Hasil pemantauan menunjukkan emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional Indonesia telah meningkat.

Mark Parrington, Senior Scientist ECMWF yang bekerja untuk CAMS, mengatakan perkembangan di Indonesia menunjukkan pola yang konsisten dengan musim kebakaran pada tahun-tahun El NiΓ±o sebelumnya.

"Untuk Indonesia, emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional sudah meningkat, konsisten dengan tahun-tahun El NiΓ±o sebelumnya," kata Parrington.

Menurutnya, CAMS akan terus mengawasi perkembangan aktivitas kebakaran serta dampaknya terhadap kualitas udara dalam beberapa pekan mendatang.

Data emisi GFAS juga dimasukkan ke sistem prakiraan komposisi atmosfer ECMWF. Dengan sistem tersebut, CAMS dapat memperkirakan bagaimana asap dan polutan terbawa angin serta pengaruhnya terhadap kualitas udara hingga beberapa hari ke depan.

Pemantauan Asap dan Emisi akibat Karhutla Kalimantan.Foto: Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS)

Temuan Copernicus sejalan dengan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan pantauan satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan serta Sumatera bagian tengah dan selatan. Sebagian asap terbawa pola angin dan meluas ke wilayah sekitarnya.

BMKG juga melaporkan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua, sejalan dengan kondisi cuaca yang relatif kering.

Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian besar Indonesia telah memasuki musim kemarau. Pada Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5% wilayah telah memasuki musim kemarau.

Curah hujan pada periode yang sama juga didominasi kategori rendah yang mencakup sekitar 90,79% wilayah Indonesia.

Kenapa Kebakaran Gambut Sulit Dipadamkan?

Kabut asap karhutla di Jalan Trikora, depan Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarmasin, Jumat (21/8/2026). Kabut asap karhutla di Jalan Trikora, depan Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarmasin, Jumat (21/8/2026).Foto: Khairun Nisa/detikKalimantan

Copernicus turut memberikan perhatian pada banyaknya lahan gambut di Kalimantan. Kebakaran di lahan jenis ini berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa dan bisa jauh lebih sulit dikendalikan ketika sudah meluas.

Gambut terbentuk dari material organik yang terakumulasi selama waktu sangat panjang. Ketika kondisinya mengering, api tidak hanya membakar tumbuhan di permukaan, tetapi dapat merambat dan membara di lapisan organik di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut sulit dipadamkan. Api dapat bertahan dalam waktu lama dan kembali muncul ke permukaan, bahkan ketika api di atas tanah terlihat sudah padam.

Pembakaran material organik juga menghasilkan asap dan partikulat yang dapat menurunkan kualitas udara.

Itulah sebabnya CAMS tidak hanya melihat lokasi kebakaran. Melalui Global Fire Assimilation System (GFAS), CAMS menggunakan pengamatan satelit untuk memperkirakan intensitas kebakaran serta emisi yang dilepaskan ke atmosfer.

GFAS memanfaatkan Fire Radiative Power (FRP), yakni ukuran energi yang dilepaskan kebakaran aktif. Data tersebut digunakan untuk memperkirakan emisi dari kebakaran dan pembakaran biomassa secara mendekati real-time.

CAMS kemudian memantau bagaimana polutan atmosfer dan smoke plume atau kepulan asap bergerak setelah dilepaskan dari sumber kebakaran.

El Nino Bisa Bikin Situasi Lebih Sulit

Copernicus memperingatkan musim kebakaran Indonesia pada 2026 berpotensi menjadi periode yang sulit karena kondisi El NiΓ±o yang kuat di kawasan Pasifik ekuator.

El NiΓ±o sering berkaitan dengan kondisi lebih kering di Indonesia. Dampaknya dapat semakin besar apabila dibarengi Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Catatan CAMS menunjukkan kebakaran hebat pernah terjadi di kawasan Indonesia pada sejumlah tahun El NiΓ±o, yakni 1997, 2005/2006, 2015, 2019 dan 2023.

CAMS menyebut 2026 tampaknya tidak menjadi pengecualian.

Selain Kalimantan, kebakaran parah turut terdeteksi di Papua Selatan, termasuk di sekitar Taman Nasional Wasur yang memiliki ekosistem lahan basah dan sabana. Aktivitas kebakaran juga terpantau di Sumatra.

Asap dari kebakaran Indonesia bahkan telah menyebar secara regional. Di Kalimantan Barat, kabut asap menyebabkan puluhan sekolah di Pontianak ditutup. Dampaknya juga terpantau hingga Singapura dan Malaysia.

Copernicus merupakan program observasi Bumi Uni Eropa. Sementara ECMWF merupakan lembaga riset sekaligus pusat operasional prakiraan cuaca global yang menjalankan CAMS dan memiliki salah satu arsip data meteorologi terbesar di dunia.

Pemantauan mereka memperlihatkan bahwa banyaknya titik api yang belakangan terlihat di Kalimantan bukan hanya fenomena visual di peta. Data satelit menunjukkan aktivitas kebakaran, emisi dan kabut asap Indonesia memang sedang mengalami peningkatan.



(afr/afr)






Hide Ads