×
Ad

Matahari Merah di Palangka Raya, Kenapa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Adi Fida Rahman - detikInet
Sabtu, 22 Agu 2026 06:16 WIB
Halaman ke 1 dari 2
Foto: Istimewa (dok Sri Muliati)
Jakarta -

Matahari berwarna merah pekat terlihat di langit Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pemandangan seperti bola api ini terlihat dramatis, tetapi sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah dan berkaitan dengan kondisi atmosfer.

Prakirawan BMKG Palangka Raya, Chandra, mengatakan perubahan penampakan Matahari tersebut bisa dipengaruhi partikel-partikel asap di udara. Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan Tengah dapat memengaruhi cahaya Matahari sebelum mencapai permukaan Bumi.

"Benar, bisa dipengaruhi dari kabut asap karhutla yang sedang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah," ujar Chandra dikutip dari detiknews.

Secara ilmiah, penjelasan tersebut sesuai dengan bagaimana aerosol dari kebakaran berinteraksi dengan radiasi Matahari. Partikel asap dapat menghamburkan sekaligus menyerap sebagian cahaya sehingga spektrum cahaya yang akhirnya mencapai mata manusia berubah.

Kenapa Matahari Bisa Terlihat Merah?

NASA menjelaskan asap kebakaran tersusun atas partikel-partikel kecil yang dapat menghalangi dan menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek, termasuk warna biru. Akibatnya, cahaya Matahari yang sampai ke pengamat menjadi lebih redup sekaligus lebih merah dari biasanya.

"Cahaya yang kita lihat dari Matahari tampak lebih redup dan lebih merah daripada biasanya," tulis NASA dalam Astronomy Picture of the Day pada 30 Juli 2026.

Prinsip dasarnya berkaitan dengan hamburan cahaya di atmosfer. Cahaya Matahari sebenarnya terdiri atas berbagai warna. Warna biru memiliki panjang gelombang lebih pendek dan lebih mudah dihamburkan dibandingkan warna merah yang memiliki panjang gelombang lebih panjang.

NASA menjelaskan ketika Matahari berada semakin rendah di langit, cahayanya juga harus melewati atmosfer dalam jarak lebih panjang. Lebih banyak cahaya biru kemudian terhambur sehingga warna merah dan kuning lebih dominan mencapai mata pengamat. Debu, polusi dan aerosol lain dapat memperkuat efek tersebut.

Karena itu, keberadaan lapisan asap yang cukup tebal dapat membuat Matahari terlihat merah atau jingga, terutama ketika posisinya mendekati cakrawala.



Simak Video "Video: Titik Panas Karhutla di Kalsel Meningkat, Hujan Buatan Sulit Dilakukan!"

(afr/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork