Antarktika dikenal sebagai benua paling dingin di Bumi. Di balik hamparan esnya yang luas, wilayah ini ternyata menyimpan harta karun bagi para ilmuwan, yakni puluhan ribu batuan dari luar angkasa.
Lebih dari 45.000 meteorit telah ditemukan dari lapisan es Antarktika sejak penemuan pertama yang terdokumentasi pada 1912. NASA bahkan memperkirakan masih ada hingga sekitar 300.000 meteorit yang menunggu ditemukan di permukaan atau dekat permukaan es.
Menariknya, seperti dikutip dari Space Daily, Kamis (13/8/2026) banyaknya meteorit di Antarktika bukan karena benua tersebut lebih sering dihujani batuan luar angkasa. Justru, es, angin, pegunungan, dan waktu bekerja sama untuk mengumpulkan meteorit di lokasi-lokasi tertentu, membuat batuan yang seharusnya tersebar di wilayah sangat luas menjadi lebih mudah ditemukan.
Ketika meteorit jatuh ke Antarktika, batuan tersebut dapat segera tertutup salju. Lapisan salju kemudian mengalami pemadatan dan berubah menjadi es. Es ini tidak diam. Lapisan gletser bergerak perlahan akibat beratnya sendiri. Meteorit yang terperangkap di dalamnya ikut terbawa bersama aliran es.
Dalam perjalanan selama ribuan hingga ratusan ribu tahun, sebagian material es akhirnya bergerak menuju wilayah tertentu. Ketika aliran es bertemu penghalang seperti pegunungan, pergerakannya dapat melambat atau berubah arah.
Di sinilah proses alami yang membuat Antarktika menjadi 'gudang' meteorit mulai terjadi. Antarktika memiliki angin katabatik, yakni angin dingin dan kering yang mengalir dari wilayah dataran tinggi menuju daerah yang lebih rendah.
Angin tersebut dapat menghambat penumpukan salju baru sekaligus mengikis permukaan es. Sebagian es juga dapat langsung berubah menjadi uap melalui proses sublimasi. Meteorit, tidak ikut menghilang dalam proses tersebut.
Ketika lapisan es yang membawa meteorit perlahan terkikis atau tersublimasi, batuan luar angkasa yang sebelumnya terkubur akhirnya muncul ke permukaan. Jika proses ini berlangsung dalam waktu sangat lama, meteorit yang awalnya jatuh di area luas dapat terkonsentrasi di wilayah tertentu yang dikenal sebagai meteorite stranding zones.
Simak Video "Lapisan Es Antartika Hilang 40% dalam Kurun Waktu 25 Tahun"
(rns/fay)