Pada 1977, Arab Saudi mengusulkan sebuah ide yang terdengar mustahil, menarik gunung es raksasa dari Antarktika ke Semenanjung Arab untuk dijadikan sumber air tawar. Gagasan ini bahkan sempat dibahas dalam konferensi ilmiah internasional dan didemonstrasikan dengan mengirim bongkahan gunung es dari Alaska ke Iowa, Amerika Serikat. Meski tak pernah terwujud, proyek tersebut menjadi salah satu eksperimen paling unik dalam sejarah rekayasa sumber daya air.
Untuk meyakinkan para ilmuwan, mereka membawa gunung es seberat sekitar dua ton dari Gletser Portage di Alaska ke Iowa State University menggunakan helikopter, pesawat, dan truk berpendingin. Bongkahan es itu dipamerkan dalam International Conference on Iceberg Utilization yang dihadiri sekitar 200 peneliti dari 18 negara.
Sebagai negara gurun dengan curah hujan yang sangat rendah, Arab Saudi telah lama menghadapi tantangan memenuhi kebutuhan air bersih. Pada 1970-an, negara itu mulai mengembangkan teknologi desalinasi, tetapi biaya produksinya masih sangat mahal.
Karena sekitar 70% cadangan air tawar dunia tersimpan dalam lapisan es Antarktika, muncul gagasan untuk memanfaatkan gunung es sebagai 'waduk terapung'. Pangeran Mohammed Al Faisal bahkan mengusulkan agar gunung es berukuran raksasa ditarik menggunakan kapal tunda menuju Laut Merah atau Teluk Arab, lalu dilelehkan secara bertahap sebagai sumber air minum.
"Arab Saudi mempertimbangkan penggunaan gunung es Antarktika sebagai sumber air tawar sekaligus cara memperbaiki iklim mikro di wilayah pesisirnya," tulis Pangeran Mohammed Al Faisal dalam makalah yang dipresentasikan pada konferensi tersebut, seperti dikutip dari Times of India.
Tantangan Ilmiah
Secara teori, gunung es memang mengandung air tawar dalam jumlah luar biasa besar. Namun, memindahkannya ribuan kilometer melintasi lautan menghadirkan tantangan yang sangat kompleks.
Para ilmuwan harus menghitung kecepatan pencairan selama perjalanan, pengaruh arus laut dan angin terhadap pergerakan gunung es, kebutuhan kapal penarik berkekuatan besar, hingga kemungkinan membungkus gunung es dengan bahan isolasi agar tidak cepat mencair. Dalam konferensi tersebut, sejumlah pakar juga menyampaikan keraguannya.
"Begitu Anda melewati khatulistiwa, kemungkinan yang tersisa hanyalah seutas tali di ujung kapal penarik," ujar Wilford Weeks dari U.S. Army Cold Regions Research and Engineering Laboratory, menggambarkan besarnya risiko gunung es mencair sebelum mencapai tujuan.
Selain itu, para peneliti mempertanyakan dampak lingkungan apabila gunung es raksasa ditambatkan di dekat pantai, termasuk perubahan suhu laut dan ekosistem setempat. Pada akhirnya, rencana tersebut tidak pernah diwujudkan. Biaya yang sangat besar, tantangan teknis, serta ketidakpastian lingkungan membuat proyek itu dianggap belum layak secara ekonomi.
Meski demikian, ide tersebut tidak sepenuhnya dilupakan. Di tengah meningkatnya krisis air dan perubahan iklim, konsep memanfaatkan gunung es sebagai sumber air tawar sesekali kembali dibahas, meski hingga kini belum ada proyek berskala besar yang berhasil direalisasikan.
Simak Video " Video Al Hilal Kandas di 16 Besar Liga Champions AFC Lewat Adu Penalti"
(rns/rns)