Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Bulan Mini' Bumi Berhasil Dipotret untuk Pertama Kali

'Bulan Mini' Bumi Berhasil Dipotret untuk Pertama Kali


Rachmatunnisa - detikInet

Fenomena bulan purnama biru (blue moon) terlihat di langit Jakarta, Minggu (31/5/2026). Bulan purnama biru adalah bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender yang secara astronomi diperkirakan akan terjadi pada periode satu hingga tiga tahun sekali dan diperkirakan akan terjadi lagi pada 31 Desember 2028. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Ilustrasi Bulan. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Jakarta -

Untuk pertama kalinya, para astronom berhasil mengabadikan gambar jarak dekat dari mikrobulan atau minimoon, benda langit kecil yang sempat menjadi satelit sementara Bumi. Penampakan langka ini membuka peluang baru untuk mempelajari objek-objek kecil di Tata Surya yang selama ini sulit diamati.

Objek yang diberi nama 2024 PT5 itu pertama kali ditemukan pada Agustus 2024. Meski disebut mikrobulan, benda ini bukanlah Bulan kedua milik Bumi, melainkan asteroid kecil yang untuk sementara waktu tertangkap oleh gravitasi Bumi sehingga mengorbit planet kita selama beberapa bulan sebelum kembali melanjutkan perjalanannya mengelilingi Matahari.

Berdasarkan pengamatan, 2024 PT5 memiliki diameter sekitar 10 meter, jauh lebih kecil dibanding Bulan yang berdiameter sekitar 3.474 kilometer. Karena ukurannya yang sangat kecil dan bergerak cepat, minimoon sangat sulit diamati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Selama ini para astronom hanya dapat mendeteksi keberadaannya sebagai titik cahaya redup di langit. Foto terbaru menjadi kali pertama bentuk objek tersebut berhasil terlihat secara langsung. Gambar bersejarah itu diperoleh menggunakan Multi Unit Spectroscopic Explorer (MUSE) yang dipasang pada Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory (ESO) di Chile.

Foto jarak dekat pertama dari asteroid 2024 PT5 yang sering disebut Bulan mini.Foto jarak dekat pertama dari asteroid 2024 PT5 yang sering disebut Bulan mini. Foto: CSNA

Instrumen tersebut memungkinkan ilmuwan menangkap citra objek yang sangat redup sekaligus menganalisis spektrum cahayanya untuk mengetahui komposisi permukaan asteroid. Menurut tim peneliti, pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam studi asteroid kecil yang sesekali singgah di sekitar Bumi.

"Ini adalah pertama kalinya kami berhasil memperoleh citra jarak dekat dari sebuah minimoon. Hasil ini membuka peluang untuk mempelajari objek-objek sementara yang sebelumnya hampir mustahil diamati secara detail," ujar tim peneliti dalam laporan yang dikutip dari New York Post.

Analisis spektrum cahaya menunjukkan 2024 PT5 kemungkinan bukan asteroid biasa. Komposisi mineral di permukaannya memiliki kemiripan dengan batuan Bulan. Para ilmuwan menduga objek ini merupakan pecahan Bulan yang terlempar ke luar angkasa akibat tumbukan asteroid besar di masa lalu, kemudian mengorbit Matahari selama jutaan tahun sebelum sesekali melintas dekat Bumi.

"Spektrumnya sangat mirip dengan sampel batuan Bulan, sehingga besar kemungkinan objek ini berasal dari permukaan Bulan," kata para peneliti.

Tidak seperti Bulan yang menjadi satelit permanen, minimoon hanya berada di sekitar Bumi dalam waktu singkat. Interaksi gravitasi antara Matahari, Bumi, dan asteroid membuat orbitnya tidak stabil. Setelah beberapa waktu, benda tersebut akan kembali mengelilingi Matahari hingga mungkin suatu saat mendekati Bumi lagi.

Meski keberadaannya sementara, minimoon dinilai sangat berharga bagi dunia sains. Objek seperti 2024 PT5 dapat menjadi laboratorium alami untuk memahami evolusi asteroid kecil, sejarah tumbukan di Bulan, hingga menjadi target potensial bagi misi antariksa masa depan karena letaknya relatif dekat dengan Bumi.



(rns/afr)




Hide Ads