Di saat banyak anak seusianya menghabiskan waktu bermain game, Ibrahim Al Abrar justru sibuk mempelajari dunia keamanan siber. Berbekal belajar secara otodidak lewat YouTube dan kecerdasan buatan (AI), siswa kelas 6 SD asal Boyolali, Jawa Tengah, ini berhasil menemukan celah keamanan pada salah satu domain publik milik NASA hingga mendapat surat apresiasi resmi dari lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.
Surat penghargaan itu diterima Ibra pada 9 Juli 2026 setelah laporannya mengenai kerentanan keamanan berhasil diverifikasi melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) NASA. Bagi bocah yang akan genap berusia 12 tahun pada 25 Juli mendatang itu, pencapaian tersebut menjadi buah dari rasa penasaran dan ketekunannya belajar teknologi secara mandiri.
Perjalanan Ibra di dunia teknologi ternyata bermula dari kebiasaan bermain game di ponsel. Sang ayah, Aminuddin Salas, yang merupakan guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), kemudian mengarahkan putranya agar tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga belajar membuat game sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya dia tertarik main game. Saya bilang, daripada cuma main game, kenapa tidak belajar bikin game-nya. Dari situ dia mulai belajar coding secara autodidak lewat YouTube, lalu banyak bertanya ke AI," ujar Aminuddin seperti dikutip dari detikJateng.
Ibra mulai mengenal coding sejak kelas 4 SD. Setelah cukup memahami dasar pemrograman, sekitar enam bulan terakhir ia mulai mendalami bidang cybersecurity, bidang yang kini menjadi cita-citanya.
Ibrahim Al Abra senang mempelajari keamanan cyber sejak kecil. Foto: Dok Ibrahim Al Abra |
Terinspirasi Kisah Hacker
Ketertarikan Ibra pada keamanan siber muncul setelah membaca kisah para peneliti keamanan yang berhasil menemukan bug di sistem NASA. Ia pun mencoba melakukan hal serupa dengan tetap mengikuti jalur resmi pelaporan.
Tidak semua laporannya langsung diterima. Ia beberapa kali mengalami penolakan sebelum akhirnya menemukan kerentanan bertipe broken link hijacking di salah satu domain publik NASA. Temuan itu kemudian dilaporkan melalui Vulnerability Disclosure Policy (VDP) NASA hingga akhirnya dinyatakan valid.
"Alhamdulillah, senang," kata Ibra singkat saat menceritakan perasaannya setelah menerima surat apresiasi dari NASA.
Menurut Ibra, belajar keamanan siber bukan tanpa hambatan. Banyak istilah teknis yang awalnya sulit dipahami. Saat menemui kebuntuan, ia mencari penjelasan melalui video YouTube maupun berdiskusi dengan AI.
Cara belajar tersebut membantunya memahami berbagai konsep teknologi informasi tanpa harus mengikuti kursus formal. Ia juga mengaku pernah mencoba membuat game sebagai latihan mengasah kemampuan coding sebelum fokus ke keamanan cyber.
Melihat minat putranya yang semakin besar, Aminuddin berusaha mendukung sebisa mungkin. Awalnya Ibra hanya belajar menggunakan ponsel. Setelah melihat kesungguhannya, orang tua membelikannya komputer bekas, lalu kemudian sebuah laptop agar proses belajarnya lebih nyaman. Aminuddin berharap penghargaan dari NASA menjadi langkah awal bagi putranya untuk terus berkembang di dunia keamanan siber.
"Harapan saya ini baru permulaan. Semoga setelah mendapat apresiasi dari NASA, dia semakin semangat belajar. Siapa tahu nanti bisa mendapatkan bug bounty dan akhirnya benar-benar menjadi profesional di bidang cybersecurity," harapnya.
