×
Ad

Kota Yunani Kuno di Afghanistan Terbengkalai Selama 2.000 Tahun

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 15 Jul 2026 13:45 WIB
Foto: Google Earth
Jakarta -

Tak banyak yang membayangkan Afghanistan pernah menjadi rumah bagi sebuah kota bergaya Yunani lengkap dengan teater, gimnasium, istana, hingga kuil. Namun, sekitar 2.000 tahun lalu, kota kuno Ai-Khanoum menjadi salah satu pusat peradaban Helenistik paling timur yang pernah dibangun.

Kota tersebut berdiri di wilayah Baktria, dekat pertemuan Sungai Amu Darya (Oxus) dan Kokcha, sebelum akhirnya ditinggalkan sekitar abad ke-2 SM. Meski telah lama terbengkalai, reruntuhannya memberikan gambaran langka tentang bagaimana budaya Yunani berkembang jauh dari Laut Mediterania.

Menurut para arkeolog, Ai-Khanoum kemungkinan didirikan pada awal abad ke-3 SM oleh penguasa Kekaisaran Seleukia, penerus wilayah yang sebelumnya ditaklukkan oleh Alexander Agung. Meski dulu sempat diduga sebagai salah satu kota yang didirikan langsung oleh Alexander, penelitian terbaru menunjukkan kota ini kemungkinan dibangun beberapa dekade setelah kematiannya.

Ai-Khanoum memiliki tata kota yang sangat khas Yunani. Para arkeolog menemukan teater yang mampu menampung ribuan penonton, gimnasium untuk pendidikan dan olahraga, kompleks istana, gudang senjata, serta berbagai kuil.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Yunani tidak hanya datang sebagai pasukan penakluk, tetapi juga membangun pusat pemerintahan dan kebudayaan yang berkembang di Asia Tengah selama beberapa generasi.

"Ai-Khanoum menjadi salah satu contoh terbaik bagaimana budaya Yunani berkembang jauh di luar kawasan Mediterania," demikian laporan yang dikutip dari IFLScience.

Selain bangunan megah, para peneliti juga menemukan berbagai prasasti Yunani, koin kerajaan Yunani-Baktria, hingga artefak yang memperlihatkan perpaduan budaya Yunani dan lokal.

Ai-Khanoum berkembang selama lebih dari satu abad sebelum mengalami kemunduran akibat konflik dan invasi bangsa nomaden dari utara.

Sekitar tahun 145 SM, kota itu direbut oleh kelompok Saka. Sebagian wilayahnya sempat dihuni kembali, tetapi kebakaran besar dan instabilitas politik membuat kota tersebut akhirnya ditinggalkan. Pada abad ke-2 M, hampir tidak ada lagi tanda kehidupan di kawasan itu.

Selama lebih dari dua milenium, reruntuhan Ai-Khanoum terkubur hingga akhirnya ditemukan kembali secara tidak sengaja pada 1961 oleh Raja Afghanistan saat itu, Mohammed Zahir Shah, ketika sedang berburu. Penemuan itu kemudian diikuti penggalian besar-besaran oleh tim arkeolog Prancis hingga akhir 1970-an.

Meski banyak artefak situs ini dijarah selama konflik di Afghanistan pada dekade-dekade berikutnya, Ai-Khanoum tetap dianggap sebagai salah satu penemuan arkeologi terpenting di Asia Tengah.

Keberadaan kota tersebut menunjukkan bahwa pengaruh budaya Yunani pernah menjangkau wilayah yang kini menjadi Afghanistan dan berpadu dengan tradisi lokal, melahirkan peradaban Yunani-Baktria yang unik.

Ai-Khanoum memberikan bukti luar biasa tentang percampuran budaya Yunani dengan masyarakat Asia Tengah pada masa Helenistik. Bagi para arkeolog, kota yang telah terbengkalai lebih dari 2.000 tahun itu bukan sekadar kumpulan reruntuhan, melainkan jendela untuk memahami bagaimana peradaban dapat menyebar, beradaptasi, lalu menghilang seiring perubahan politik dan sejarah.



Simak Video "Video: Pakistan Serang Afghanistan, 400 Orang Dilaporkan Tewas"

(rns/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork