Seiring rencana NASA pembangun Pangkalan Bulan permanen, sebuah makalah mengusulkan agar Bulan juga menjadi tuan rumah bagi lini pertahanan biologis yang krusial. Dua peneliti berpendapat, fasilitas biocontainment di Bulan diperlukan untuk mengkarantina sampel ekstraterestrial sebelum menyentuh Bumi.
Proposal ini dimuat dalam jurnal Ambio. Dua penulisnya, Frederick I. Moxley dan Anthony Ricciardi dari Universitas McGill, berargumen bahwa membawa material dari Mars atau asteroid yang jauh langsung ke Bumi menyimpan risiko ekologis yang tak terduga.
Mereka merekomendasikan pembangunan laboratorium keamanan tinggi di permukaan Bulan, tempat sistem robotik canggih dapat memproses sampel-sampel dari luar angkasa. Langkah ini akan menjaga potensi kontaminan tetap terisolasi di lingkungan yang jauh dari Bumi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saran ini sejalan dengan perubahan arah NASA dalam program Artemis. Setelah peluncuran misi Artemis II berawak April 2026, NASA memprioritaskan pembangunan infrastruktur permukaan ketimbang stasiun orbit. Mereka berencana mengembangkan pangkalan permanen yang mampu mendukung misi jangka panjang pada 2030. Mengintegrasikan pusat keamanan hayati ke arsitektur ini akan memanfaatkan isolasi alami yang dimiliki Bulan.
"Fasilitas yang diusulkan ini pada dasarnya akan berfungsi sebagai tembok pelindung antara Bumi dan berbagai organisme hidup berpotensi berbahaya yang mungkin terbawa dalam misi luar angkasa masa depan yang kembali ke Bumi," kata Moxley, direktur Strategic Threat Analysis and Research Laboratories.
Meski keberadaan mikroba ekstraterestrial masih sepenuhnya teoritis, periset banyak merujuk pada ekologi terestrial. Mereka berargumen masuknya entitas biologis baru yang belum dikenal bisa meniru pola kerusakan spesies invasif di Bumi. Organisme yang tak punya predator alami dapat menyebar cepat dan mengubah ekosistem.
Ricciardi, Direktur Bieler School of Environment, menegaskan menunggu insiden terjadi bukanlah strategi layak. "Puluhan tahun riset spesies invasif membuktikan bagaimana sebuah organisme yang masuk ke tempat yang salah pada waktu yang salah dapat menyebar tak terkendali, dengan dampak jangka panjang yang berpotensi menghancurkan dan tak dapat dipulihkan pada ekosistem," kata Ricciardi.
"Penelitian ini menjustifikasi pendekatan pencegahan yang kuat terhadap masuknya organisme dari luar Bumi," imbuhnya. Mereka memperingatkan bahwa panduan perlindungan planet yang ada saat ini tidak memadai untuk era misi pengembalian sampel yang semakin sering dilakukan.
Jika sebuah wahana antariksa yang membawa material terkontaminasi mengalami kecelakaan di Bumi, laboratorium yang ada sekarang tidak dapat menjamin penahanan terhadap bentuk kehidupan dengan biokimia yang belum diketahui.
(fyk/afr)

