Orang Jepang dikenal dengan etos kerjanya yang luar biasa. Oleh karena itu, karōshi (mati karena kerja terlampau keras atau overwork), menjadi krisis global yang mengkhawatirkan.
Setelah Perang Dunia II, Jepang membangun kembali perjanjian antara karyawan dan pengusaha. Perjanjiannya adalah jaminan pekerjaan seumur hidup dan kemakmuran sebagai imbalan atas loyalitas, pengorbanan, dan komitmen total. Sulit, akan tetapi kesepakatan itu membuahkan hasil.
Dikutip dari IFLScience, Kamis (18/6/2026), dari tahun 1950-an hingga awal 1990-an, Jepang memainkan permainan kapitalisme dan globalisasi dengan hampir sempurna. Jepang dengan cepat naik menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia. Ini adalah prestasi besar mengingat negara itu telah dibom habis-habisan hanya beberapa dekade sebelumnya.
Gampang sekali untuk mengenali pekerja kantoran di Jepang. Mereka pakai setelan jas, dasi, dan potongan rambut yang rapi. Mereka tiba lebih awal di kantor dengan kereta komuter pertama.
Kesehariannya, tak jarang mereka melewatkan istirahat makan siang. Ada pula budaya minum bersama bosnya hingga larut malam dan hanya tidur beberapa jam setiap malam.
Pekerja kantoran pasca-perang
Di era pasca-perang, pekerja kantoran dipromosikan sebagai sosok pahlawan yang membantu menyelamatkan Jepang dari kehancuran. Sampai akhirnya, orang-orang mulai benar-benar meninggal di meja kerja mereka.
Sejak tahun 1969, Jepang mulai melihat kasus serangan jantung dan stroke yang terkait dengan kerja berlebihan. Bunuh diri yang terkait dengan stres dan kelelahan kerja yang parah, yang dikenal sebagai karojisatsu, juga ditemukan.
Yang lainnya, meninggal karena kekurangan gizi yang terkait dengan stres yang hebat. Pada awal tahun 1980-an, masalah ini telah meluas hingga memiliki istilah tersendiri: karōshi.
Bahkan hingga saat ini, skalanya sangat mengejutkan. Setidaknya ada 1.304 kasus karōshi yang terdokumentasi pada tahun 2024, menurut data dari Kementerian Kesehatan Jepang. Lalu diperkirakan pada tahun 2023 bahwa 10,1% laki-laki dan 4,2% perempuan di Jepang bekerja lebih dari 60 jam seminggu (yaitu 12 jam sehari, lima hari seminggu).
Untuk pekerja wiraswasta, angkanya bahkan lebih tinggi, dengan 7,8% perempuan dan 15,4% laki-laki bekerja lebih dari 60 jam seminggu.
Krisis ini disadari pemerintah Jepang, mereka pun telah berupaya mereformasi budaya tempat kerja dengan memberlakukan peraturan jam kerja yang lebih ketat. Meski begitu, kemajuannya lambat dan tidak merata.
Ada juga kekhawatiran bahwa sedikit kemajuan yang telah dicapai dapat dibalikkan di bawah pemerintahan Sanae Takaichi, yang pernah mengatakan bahwa ia hanya tidur dua jam setiap malam.
Tak cuma di Jepang
Namun, masalah ini bukan lagi hanya masalah di Jepang saja. Sebuah studi penting tahun 2021 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2016, sekitar 745.000 orang di seluruh dunia meninggal karena stroke dan masalah jantung yang disebabkan oleh jam kerja yang panjang.
Studi WHO tersebut selanjutnya menunjukkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu dikaitkan dengan risiko stroke 35% lebih tinggi dan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik 17% lebih tinggi, dibandingkan dengan bekerja 35 hingga 40 jam per minggu.
Laki-laki terkena dampak secara tidak proporsional, menyumbang 72% dari kematian tersebut. Asia Tenggara dan Pasifik Barat paling terdampak, meskipun masalah ini lazim terjadi di sebagian besar negara-negara Selatan.
Bahkan di Eropa Barat dan Amerika Utara, di mana perlindungan tenaga kerja biasanya lebih kuat, budaya kerja mengalami perubahan yang sama mengkhawatirkan. Meningkatnya komunikasi elektronik dan kerja jarak jauh yang selalu aktif telah mengaburkan batas antara kantor dan rumah, sementara ekonomi gig mendorong gagasan bahwa orang harus 'bekerja keras' sepanjang waktu.
Simak Video "Video: Apakah Video Game Punya Pengaruh Besar Terhadap Agresi?"
(ask/ask)