×
Ad

Petir Super Pecahkan Rekor Dunia, Panjangnya Setara Jakarta ke Situbondo

Aisyah Kamaliah - detikInet
Senin, 30 Mar 2026 07:58 WIB
Petir super memecahkan rekor dunia dengan panjang 515 mil atau sekitar 829 km, setara Jakarta ke Situbondo, Jawa Timur. Foto: Michael Peterson/GTRI
Jakarta -

Petir super memecahkan rekor dunia dengan panjang 515 mil atau sekitar 829 km, setara Jakarta ke Situbondo, Jawa Timur. Petir tersebut terjadi pada 2017 dan kedahsyatannya telah dikonfirmasi oleh para ilmuwan.

Sebuah laporan baru dalam Bulletin of the American Meteorological Society mendokumentasikan rekor petir itu. Petir yang menyambar dari Texas bagian timur hingga Kansas City, Missouri itu mengalahkan pemegang gelar sebelumnya, sambaran petir sejauh 477 mil atau 767 km yang terjadi pada April 2020.

"Kami menyebutnya petir megaflash dan kami baru sekarang memahami mekanisme bagaimana dan mengapa hal itu terjadi," kata Randy Cerveny, seorang profesor Arizona State University yang mengerjakan studi tersebut, dalam sebuah pernyataan.

Melansir The Post, Senin (30/3/2026), Petir megaflash didefinisikan sebagai sambaran petir yang mencapai panjang lebih dari 62 mil (hampir 100 km). Sambaran petir rata-rata berukuran kurang dari 10 mil (setara 16 km).

Megaflash berasal dari badai yang berlangsung lama, biasanya badai yang berlangsung selama 14 jam atau lebih. Kurang dari 1% badai petir menghasilkan petir megaflash, menurut pengamatan satelit yang dianalisis oleh Michael Peterson di Georgia Tech Research Institute.

Soal petir tersebut, Cerveny dan rekan-rekannya mengukur megaflash yang terjadi selama badai petir besar pada Oktober 2017 itu. Mereka menggunakan instrumen berbasis ruang angkasa dan pemeriksaan ulang pengamatan satelit.

Mereka meninjau data dari satelit GOES-16 milik National Oceanic and Atmospheric Administration, yang memiliki pemetaan petir yang mendeteksi sekitar satu juta sambaran petir per hari.

"Satelit cuaca kami membawa peralatan deteksi petir yang sangat akurat yang dapat kami gunakan untuk mendokumentasikan hingga milidetik saat kilatan petir dimulai dan seberapa jauh jangkauannya," ujar Cerveny.

Deteksi dan pengukuran petir selama bertahun-tahun bergantung pada jaringan antena berbasis darat. Antena akan mendeteksi sinyal radio yang dipancarkan oleh petir untuk memperkirakan lokasi dan kecepatan perjalanan berdasarkan waktu yang dibutuhkan sinyal untuk mencapai stasiun antena lainnya.

"Kemungkinan besar masih ada kejadian ekstrem yang lebih besar, dan kita akan dapat mengamatinya seiring dengan bertambahnya pengukuran petir berkualitas tinggi dari waktu ke waktu," jelas Cerveny, yang menjabat sebagai pelapor kejadian ekstrem cuaca dan iklim untuk Organisasi Meteorologi Dunia.

Meskipun megaflash jarang terjadi, Ceverny mengatakan bahwa tidak jarang sambaran petir mencapai jarak 10 hingga 15 mil (16-24 km) dari awan badai asalnya. Jika ini terjadi, tingkat bahayanya otomatis akan meningkat.



Simak Video "Video: Respons Pramono soal Prabowo Bakal Bentuk Tim Khusus Penanganan Banjir"

(ask/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork