Seorang ilmuwan pemerintah Norwegia membuat perangkat yang memancarkan denyut energi gelombang mikro dan mengujinya pada diri sendiri. Mengutip sumber-sumber yang mengetahui eksperimen tersebut, dia ingin membuktikan bahwa alat itu tidak berbahaya
Namun menurut Washington Post, sang ilmuwan menderita gejala yang sejalan dengan 'sindrom Havana', kondisi medis yang masih diperdebatkan. Juga disebut Insiden Kesehatan Anomali (Anomalous Health Incidents/AHI), istilah "sindrom Havana" muncul tahun 2016 setelah personel kedutaan Amerika Serikat di Havana melaporkan gejala seperti pusing dan kesulitan kognitif.
Dikutip detikINET dari Futurism, kondisi ini diyakini beberapa pihak disebabkan oleh perangkat yang memancarkan denyut elektromagnetik. Ratusan diplomat di beberapa negara kemudian melaporkan gejala AHI serupa.
Panel ahli tahun 2022 menyimpulkan gelombang elektromagnetik secara masuk akal menjelaskan gejala AHI walau mereka menekankan adanya celah informasi yang signifikan.
Namun tahun 2023, komunitas intelijen AS termasuk CIA menilai sangat kecil kemungkinannya ada campur tangan negara asing. Memasuki awal tahun 2025, beberapa lembaga berubah pikiran dengan mencatat adanya kemungkinan serangan asing terhadap diplomat Amerika.
Dua lembaga, Badan Keamanan Nasional (NSA) dan National Ground Intelligence Center (NGIC), dilaporkan merevisi kesimpulan. Mereka mengutip perkembangan baru yang menunjukkan aktor asing mungkin punya kemampuan yang sejalan dengan setidaknya beberapa gejala AHI. CIA dan empat lembaga lainnya tetap mempertahankan pandangan bahwa keterlibatan asing sangat kecil kemungkinannya.
Meskipun tidak ada negara yang secara resmi disebut dalangnya, Washington Post melaporkan para mantan pejabat serta para korban AHI, menunjuk Rusia sebagai pelakunya. Rusia sendiri membantah bertanggung jawab.
Menjelang akhir pemerintahan Biden pada tahun 2025, Departemen Pertahanan AS dilaporkan membeli dan menguji sebuah perangkat yang sebagian komponennya dibuat di Rusia, yang diyakini dapat menyebabkan gejala tersebut.
Menurut Washington Post, peneliti Norwegia tersebut yang sebenarnya skeptis, membuat perangkat pemancar denyut elektromagnetik tahun 2024 menggunakan informasi rahasia dan menguji pada dirinya sendiri. Sumber yang mengetahui eksperimen tersebut mengatakan bahwa sang ilmuwan menderita gejala neurologis yang detailnya tidak diungkap ke publik.
Eksperimen di Norwegia ini memang tidak membuktikan AHI hasil serangan pihak asing. Namun temuan ini dapat memicu kembali perdebatan mengenai apakah perangkat elektromagnetik berdenyut benar-benar dapat menyebabkan efek medis dan apakah teknologi semacam itu dikembangkan negara-negara pesaing.
Simak Video "Video: Ilmuwan Harvard Ngaku Temukan Lokasi Tuhan Berada "
(fyk/fyk)