Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Misteri AI Punya Kesadaran Atau Tidak

Misteri AI Punya Kesadaran Atau Tidak


Aisyah Kamaliah - detikInet

Science and education concept. AI (Artificial Intelligence).
Akankan AI memiliki kecerdasan, dan apakah kita akan mengetahui serta membuktikannya? Foto: Getty Images/iStockphoto/metamorworks
Jakarta -

Pertanyaan paling banyak soal kecerdasan buatan (AI) adalah 'akankah AI memiliki kesadaran (consious)?'. Lanjutan pertanyaannya ada lagi: akankah kita tahu kalau AI sudah sadar?

Kini, semakin banyak pemerintah dan pihak berwenang menyerukan pengujian yang kuat untuk mengukur atau mendeteksi kesadaran buatan. Pada saat yang sama, sains telah membuat kemajuan cukup besar dalam pengembangan alat yang dapat mengukur kesadaran.

Hal ini telah menambah bobot pada gagasan bahwa pertanyaan tentang kesadaran, baik pada spesies non-manusia maupun mesin, dapat dijawab melalui penelitian empiris dan ilmiah, bukan intuisi atau spekulasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir IFL Science, ada pandangan yang sangat berbeda. Di satu sisi, ada pendukung AI yang percaya bahwa jenis AI yang tepat dapat mencapai kesadaran karena, menurut mereka, kesadaran hanyalah pola 'perangkat lunak'. Bahkan di otak, di mana perangkat lunak tertanam dalam 'perangkat basah'. Jika kamu dapat membangun perhitungan yang tepat, kamu dapat menciptakan kesadaran.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, ada skeptis yang melihat kesadaran sebagai sesuatu yang terdiri dari 'materi' biologis, misalnya zat kimia dan neuron. Orang-orang ini berpendapat bahwa tanpa materi organik ini, AI tidak akan mencapai kesadaran sejati meskipun keterbatasannya menjadi lebih canggih.

Pada intinya, Tom McClelland filsuf dari University of Cambridge percaya pendukung AI dan skeptis sama-sama menebak. Tanpa penjelasan mendalam tentang kesadaran, upaya untuk menilai kemungkinan kesadaran buatan menemui jalan buntu epistemik.

"Pendekatan dominan terhadap (kesadaran buatan]) baik yang mendukung (kesadaran buatan) maupun yang skeptis terhadapnya, melompati jalan buntu epistemik ini dan dengan demikian mengkompromikan prinsip evidensialis yang mereka klaim untuk pertahankan," ujarnya.

"Klaim luas untuk menawarkan tes berbasis sains untuk (kesadaran buatan) dengan demikian dilebih-lebihkan," tambahnya.

Kata McClelland, ketidaktahuan kita tentang kesadaran memiliki implikasi yang lebih luas. Hal ini menciptakan dilema moral untuk perkembangan di masa depan. Masalah ini pada dasarnya bermuara pada hubungan antara kesadaran dan kepekaan.

Misalnya, mobil yang dapat mengemudi sendiri dapat dikatakan memiliki bentuk kesadaran karena ia memiliki kesadaran akan dunia di sekitarnya dalam kaitannya dengan dirinya sendiri, meskipun ia tidak memiliki pikiran tentang tujuan. Jika kita mengklasifikasikan ini sebagai 'kesadaran', itu bukanlah kesadaran yang perlu kita perhatikan secara moral karena sangat terbatas.

Sebaliknya, jika sesuatu dapat dikatakan memiliki 'kesadaran', seperti punya kemampuan untuk merasakan kesenangan atau rasa sakit, maka hal itu memasuki ranah moral.

Mengingat kita tidak tahu apakah AI dapat mencapai kesadaran, kita juga dihadapkan pada masalah apakah AI memiliki kesadaran atau tidak. Jika ya, maka kita berisiko menimbulkan penderitaan padanya melalui kekejaman digital dengan memperlakukannya sebagai 'benda' yang pada dasarnya adalah budak. Sebaliknya, jika kita terjebak dalam asumsi bahwa AI memang memiliki kesadaran, kita berisiko memberinya empati yang tidak seharusnya diterimanya.

"Jika kita secara tidak sengaja membuat AI yang sadar atau memiliki kesadaran, kita harus berhati-hati untuk menghindari kerugian," jelas McClelland dalam sebuah pernyataan.

"Tetapi memperlakukan apa yang pada dasarnya adalah pemanggang roti sebagai makhluk sadar ketika ada makhluk hidup yang benar-benar sadar di luar sana yang kita rugikan dalam skala besar, juga tampaknya merupakan kesalahan besar," ungkapnya.

Masih kata McClelland, kita sudah menghabiskan sejumlah besar uang untuk memperdebatkan kesadaran AI sementara kita mengabaikan penderitaan yang terbukti dari spesies organik di dunia saat ini.

"Sejumlah bukti yang berkembang menunjukkan bahwa udang mungkin mampu menderita, namun kita membunuh sekitar setengah triliun udang setiap tahun. Menguji kesadaran pada udang itu sulit, tetapi tidak sesulit menguji kesadaran pada AI," tuturnya.

"Jika Anda memiliki hubungan emosional dengan sesuatu yang didasarkan pada anggapan bahwa ia sadar, dan ternyata tidak, hal itu berpotensi menjadi racun eksistensial. Ini tentu diperparah oleh retorika yang berlebihan dari industri teknologi," pungkasnya.




(ask/ask)





Hide Ads