Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Perubahan Iklim Bikin Trump Makin Ngebet Caplok Greenland, Kok Bisa?

Perubahan Iklim Bikin Trump Makin Ngebet Caplok Greenland, Kok Bisa?


Rachmatunnisa - detikInet

A view of Tasiilaq, a town surrounded by high mountains in Eastern Greenland
Foto: Getty Images/iStockphoto/stockphoto52
Jakarta -

Keinginan Donald Trump mencaplok wilayah Greenland semakin kuat seiring mencairnya es akibat perubahan iklim. Kalian mungkin berpikir, apa hubungannya?

Dalam laporan yang dikutip dari TIME, Greenland disebut mengalami pemanasan jauh lebih cepat dibanding wilayah lain di dunia. Es yang mencair memang membuka akses geografis, tetapi di sisi lain memunculkan risiko lingkungan dan teknis yang besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Profesor sumber daya alam dari University of Vermont, Paul Bierman, menilai banyak klaim soal manfaat strategis Greenland yang terlalu disederhanakan. Menurut para ilmuwan, pencairan es di Greenland bukan berarti wilayah ini otomatis menjadi ladang keuntungan ekonomi dan militer.

"Ada manfaat militer dan ekonomi yang dianggap akan muncul. Tapi saya pikir kedua gagasan itu keliru," kata Bierman.

ADVERTISEMENT

Bierman menjelaskan, ada anggapan bahwa mencairnya es di Greenland akan langsung membuka akses ke mineral langka dan sumber daya alam. Padahal secara ilmiah, proses tersebut jauh lebih kompleks.

"Ada fantasi bahwa lapisan es akan mencair begitu saja dan semua mineral eksotis akan langsung muncul," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Asa Rennermalm, Profesor bidang geografi di Rutgers University. Ia menegaskan bahwa Greenland bukan wilayah yang mudah dikembangkan meski iklim menghangat. "Ini adalah wilayah yang sangat rumit untuk membangun infrastruktur," kata Rennermalm.

Greenland hampir tidak memiliki jaringan jalan, banyak wilayahnya masih berupa permafrost, dan pencairan es justru membuat tanah menjadi tidak stabil. Kondisi ini meningkatkan risiko longsor, kerusakan bangunan, dan biaya pembangunan yang sangat tinggi.

Lebih jauh, para ilmuwan mengingatkan bahwa mencairnya lapisan es Greenland berdampak global. Jika es terus menyusut, permukaan laut dunia bisa naik signifikan dan mengancam kota-kota pesisir.

Rennermalm menekankan bahwa menjaga lapisan es Greenland jauh lebih penting daripada melihatnya sebagai peluang geopolitik. "Jika kita gagal menjaga lapisan es ini, kerugian ekonominya bisa mencapai triliunan dolar," ujarnya.

Bagi ilmuwan, Greenland bukan sekadar wilayah strategis, melainkan indikator penting krisis iklim global, sesuatu yang tak bisa diselesaikan hanya dengan ambisi politik.




(rns/rns)







Hide Ads