Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Misteri Penyebab Salah Satu Buaya Terbesar di Dunia Mati Terungkap

Misteri Penyebab Salah Satu Buaya Terbesar di Dunia Mati Terungkap


Aisyah Kamaliah - detikInet

Cassius, buaya penangkaran terbesar di dunia sejak 2011.
Cassius semasa hidup. Foto: Marineland Melanesia
Jakarta -

Cassius, salah satu buaya terbesar di dunia, mati setelah hidup lebih dari seabad. Dia mati di Australia dengan misteri yang akhirnya terkuak. Buaya dengan panjang 5,5 meter itu mati karena kondisi nekrosis.

Buaya air asin itu mati pada November 2024 di Taman Margasatwa Marineland Melanesia di Green Island, lepas pantai Cairns. Lokasi ini telah menjadi rumah bagi Cassius selama empat dekade lamanya.

Pada usia sekitar 110-129 tahun, dia merupakan salah satu buaya tertua di penangkaran. Anehnya, sebelum mati, buaya tersebut terlihat ceria dan aktif seperti biasanya. Mendadak saja dia mati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Berbicara kepada ABC News, Pusat Penelitian Buaya yang berbasis di Darwin mengatakan bahwa otopsi mereka mengungkapkan bahwa Cassius mati karena infeksi. Infeksi ini terkait dengan cedera yang dialaminya di alam liar lebih dari 40 tahun yang lalu.

Cedera tersebut memicu infeksi yang terperangkap di dalam kapsul berserat yang keras, dan tetap tidak aktif selama beberapa dekade. Seiring waktu, gelembung pelindung itu pecah dan akhirnya hancur, memungkinkan infeksi menyebar ke seluruh tubuh buaya.

Melansir IFLScience, Dr Sally Isberg, Direktur Pelaksana di Pusat Penelitian Buaya, mengatakan kepada media bahwa meskipun apa yang disebut fibrosis terdokumentasi dengan baik pada buaya, kasus Cassius termasuk luar biasa karena lamanya infeksi tersebut tertahan.

Dengan penyelidikan lebih lanjut, tim menyimpulkan bahwa infeksi tersembunyi tersebut mungkin terkait dengan cedera yang diderita pada tahun 1980-an ketika Cassius tertabrak baling-baling kapal. Insiden itu mengakibatkan hilangnya kaki depan kirinya, sebagian moncongnya, dan ujung ekornya.

"Yang tidak kami ketahui adalah bahwa tulang rusuknya juga rusak akibat cedera itu," kata Dr Isberg.

Alasannya adalah karena semuanya sembuh sempurna. Tidak ada tanda-tanda infeksi atau bekas luka baru. Saat nekropsi (bedah bangkai hewan), tulang rusuk kirinya membengkak dibandingkan dengan tulang rusuk kanannya, jadi lebih panjang.

"Ini adalah contoh sempurna dari efek usia tua -- ia tidak lagi mampu mempertahankan selubung berserat di sekitar infeksi tersebut," lanjutnya.

Cassius ditangkap pada tahun 1984 di Sungai Finniss dekat Darwin dan diangkut melalui jalan darat dan kapal. Ia akhirnya tiba di Marineland Melanesia pada tahun 1987. Karena ukuran dan kekuatannya, ia dinamai Cassius Clay, nama lahir petinju Muhammad Ali.

Ia diakui sebagai buaya terbesar di dunia yang dipelihara di penangkaran untuk beberapa waktu, menurut Guinness World Records. Meskipun pada akhirnya gelar tersebut direbut oleh buaya yang lebih besar lagi bernama Lolong pada tahun 2012.

Namun, warisan Cassius tetap hidup. Tubuh binatang buas Australia yang telah diawetkan ini (masih kehilangan kaki kiri dan ujung ekornya) baru saja tiba di Marineland Melanesia, tempat ia sekarang dipajang dalam pameran baru.




(ask/rns)







Hide Ads