Jika ada cabang olahraga 'melempar buang air besar jarak jauh' di Olimpiade, penguin mungkin akan membawa pulang medali emas. Burung gemuk yang menggemaskan ini bisa melemparkan kotoran hingga jarak hampir dua kali panjang tubuhnya sendiri.
Keanehan ini diteliti oleh para ilmuwan, yang menghitung seberapa besar kekuatan yang dihasilkan rektum kecil mereka untuk melakukannya, dan seberapa jauh kotoran tersebut dapat terbang.
Lebih dari satu dekade yang lalu, para ilmuwan telah meneliti tekanan yang dibutuhkan penguin dagu dan penguin Adelie untuk mengeluarkan kotoran di sepanjang jalur yang sebagian besar horizontal, yang mereka identifikasi sebagai arah buang air besar penguin yang paling umum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah studi baru yang muncul di situs pracetak arXiv pada 2 Juli 2020, tim peneliti lain menganalisis lintasan feses yang berbeda pada penguin Humboldt (Spheniscus humboldti), yang sering buang air besar dalam bentuk busur menurun menjauhi sarang mereka di dataran tinggi.
Tim ilmuwan yang pertama kali memecahkan teka-teki kotoran penguin menerbitkan hasil penelitian mereka pada 2003, dalam jurnal Polar Biology, studi perintis tersebut memenangkan Penghargaan Ig Nobel bagi para penulisnya pada 2005 untuk dinamika fluida.
Ketika tim peneliti baru meninjau kembali pertanyaan tersebut, mereka memperluas hasil sebelumnya dengan menghitung ulang tekanan internal di dalam usus dan rektum penguin, mengoreksi viskositas kotoran, dan memperhitungkan hambatan udara di sepanjang lintasan lengkung. Mereka kemudian menemukan bahwa gaya yang bekerja bahkan lebih ekstrem dari yang diperkirakan sebelumnya.
Tekanan diukur dalam satuan kilopascal (kPa), 1 kPa setara dengan 1.000 newton per meter persegi. Dalam studi baru ini, para ilmuwan menghitung bahwa tekanan yang dihasilkan di rektum penguin yang sedang buang air besar mencapai 28,2 kPa, sekitar 1,4 kali lipat dari perkiraan dalam studi di 2003.
"Saya terkejut dengan tekanan rektal penguin yang sangat kuat," kata penulis utama studi Hiroyuki Tajima, asisten profesor di Departemen Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Kochi di Jepang.
Meskipun penguin Humboldt hanya setinggi 71cm, para ilmuwan menemukan bahwa burung tersebut dapat menghasilkan energi pendorong tinja yang cukup untuk melontarkan 'bom' tinja dengan kecepatan hampir 8 km/jam, dan mendarat hingga jarak 134 cm. Pencapaian ini setara dengan manusia dewasa yang menembakkan tinja mereka hingga jarak lebih dari 3 meter, ujar Tajima.
Victor Benno Meyer-Rochow, penulis utama studi di 2003, menyatakan bahwa dia sangat senang bahwa peneliti lain telah mengambil idenya untuk meneliti kotoran penguin.
Studi baru ini menggambarkan penguin mengeluarkan feses melengkung ke atas sebelum turun, sesuatu yang belum pernah diamati oleh Benno Meyer-Rochow dan rekannya pada penguin AdΓ©lie.
"Namun demikian, tentu saja ada kemungkinan kami melewatkannya atau penguin-penguin ini terkadang melakukannya ketika mereka berdiri di atas batu yang tidak rata dan/atau membungkuk ke depan lebih dari yang kami amati," ujar Benno Meyer-Rochow.
Burung pemakan daging atau ikan biasanya buang air besar dengan lebih kuat daripada burung pemakan biji-bijian, mungkin karena kotorannya mengandung asam urat yang lebih tinggi dan dapat mengiritasi, tulis Benno Meyer-Rochow dalam postingan blog di 2019.
Meskipun semburan kotoran membantu penguin menjaga sarang mereka tetap rapi, tekanan tinggi yang dikeluarkan penguin menimbulkan bahaya pekerjaan bagi pengasuh penguin di kebun binatang dan akuarium, lapor para penulis studi.
Oleh karena itu, temuan mereka memiliki sisi praktis, membantu para ahli satwa liar yang merawat penguin untuk membangun 'zona aman' sehingga mereka dapat tetap berada jauh dari jangkauan penguin selama burung-burung tersebut buang air besar secara tiba-tiba.
(rns/rns)