4 Hal Menyeramkan yang Terjadi Pada Tubuh di 'Zona Kematian' Everest

4 Hal Menyeramkan yang Terjadi Pada Tubuh di 'Zona Kematian' Everest

ADVERTISEMENT

4 Hal Menyeramkan yang Terjadi Pada Tubuh di 'Zona Kematian' Everest

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 04 Jan 2023 10:15 WIB
Gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest, tercatat bertambah tinggi 86 centimeter dibanding sebelumnya.
Gunung Everest memiliki 'Zona Kematian' yang dampaknya pada tubuh tidak main-main, bahkan berisiko terkena penyakit jika tubuh tidak kuat. Foto: AP Photo
Jakarta -

Gunung Everest menjadi gunung tertinggi di dunia yang juga jadi destinasi favorit mendaki. Tapi tidak semua orang bisa bertahan, apalagi di 'zona kematian' yang berada di ketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut. Gunung Everest memiliki tinggi 8.848 meter di atas permukaan laut.

Di tahun 2019, sedikitnya ada 11 orang yang meninggal dunia di Everest, kebanyakan tidak bernyawa di area 'Zona Kematian'. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa terjadi ketika mendaki Gunung Everest di 'Zona Kematian' melansir Science Alert.

1. Susah bernapas

Di daratan permukaan laut, udara mengandung 21% oksigen. Namun, di atas 12 ribu kaki atau 3.657 meter lebih, diperkirakan molekul oksigennya turun 40% per napas.

Ada yang bilang, mendaki Gunung Everest sangat sulit bernapas. Rasanya seperti berlari di atas treadmill dan bernapas melalui sedotan.

2. Tubuh beradaptasi

Berada di medan yang jauh berbeda dengan keseharian membuat tubuh butuh beradaptasi. Pertama, hemoglobin menjadi bertambah produksi. Hemoglobin adalah protein di sel darah merah yang membantu membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Tapi, terlalu banyak hemoglobin tidak baik. Ini bisa membuat sulitnya memompa darah ke seluruh tubuh. Darah menjadi lebih kental yang mana mengarah pada peningkatan risiko stroke dan penyakit lain.

Ada pun kondisi high altiture pulmonary edema (HAPE) sering terjadi. HAPE adalah penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan gangguan fungsi organ.

3. Otak membengkak

Salah satu faktor risiko terbesar di ketinggian 26.000 kaki adalah hipoksia, kurangnya sirkulasi oksigen yang memadai ke organ seperti otak. Jika otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup, otak dapat mulai membengkak, menyebabkan kondisi yang disebut dengan high altitude cerebral edema (HACE).

Pembengkakan ini bisa memicu mual, muntah, serta kesulitan berpikir dan bernalar. Otak yang kekurangan oksigen dapat menyebabkan pendaki lupa di mana mereka berada dan mengalami delirium yang oleh beberapa ahli dianggap sebagai bentuk psikosis ketinggian.

4. Dan risiko lainnya...

Akan banyak kesulitan yang dihadapi ketika mendaki Gunung Everest terutama di 'Zona Kematian'. Di sana, orang bisa mengalami penurunan berat badan, kehilangan pandangan sementara, hingga muntah-muntah dan insomnia.

Karena itu, bisa dipastikan orang yang ingin mendaki Gunung Everest harus memiliki kemampuan fisik yang baik. Kalau kamu bagaimana, tertarik mendaki Gunung Everest, detikers?



Simak Video "Aksi Lee Si Young Daki Gunung Tertinggi Korea Selatan Sambil Gendong Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT