Populasi Manusia 8 Miliar, Orang Terkaya Kuasai Dunia

Populasi Manusia 8 Miliar, Orang Terkaya Kuasai Dunia

ADVERTISEMENT

Populasi Manusia 8 Miliar, Orang Terkaya Kuasai Dunia

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 21 Nov 2022 22:00 WIB
Penduduk Bumi Lewati 8 Miliar, Kerusakan Ekologi dan Iklim Makin Parah?
Populasi Manusia 8 Miliar, Orang Terkaya Kuasai Dunia. Foto: DW (News)
Jakarta -

Populasi dunia kita secara resmi mencapai tonggak 8 miliar pada 15 November 2022. Ada kekhawatiran Bumi terlalu padat dan kekurangan sumber daya untuk menghidupi penduduknya.

Dikutip dari AFP, sebagian besar ahli mengatakan masalah yang lebih besar dari padatnya jumlah penduduk adalah konsumsi sumber daya yang berlebihan oleh penduduk terkaya.

"Delapan miliar orang, ini adalah tonggak penting bagi umat manusia," kata Kepala Dana Kependudukan PBB Natalia Kanem, memuji peningkatan harapan hidup dan lebih sedikit angka kematian ibu dan anak.

"Namun, saya menyadari momen ini mungkin tidak dirayakan oleh semua orang. Beberapa menyatakan keprihatinan bahwa dunia kita kelebihan penduduk. Saya di sini untuk mengatakan dengan jelas bahwa banyaknya nyawa manusia bukanlah alasan untuk takut," sambungnya.

Jadi, apakah jumlah kita terlalu banyak untuk dipertahankan Bumi? Banyak ahli mengatakan bahwa ini adalah pertanyaan yang salah. Alih-alih takut kelebihan populasi, menurut mereka, kita seharusnya fokus pada konsumsi berlebihan sumber daya planet ini oleh orang-orang terkaya di antara kita.

"Terlalu banyak menurut siapa, terlalu banyak untuk apa? Jika Anda bertanya kepada saya, apakah (penduduk Bumi) terlalu banyak? Saya kira tidak," kata Joel Cohen dari Laboratory of Population Rockefeller University.

Dia mengatakan pertanyaan tentang berapa banyak orang yang dapat ditampung Bumi memiliki dua sisi: batas alam dan pilihan manusia itu sendiri.

Masalah lingkungan

Dengan populasi dunia mencapai 8 miliar manusia dan terus bertambah, apa yang akan terjadi? Sayangnya, pilihan kita membuat manusia lebih banyak mengonsumsi sumber daya biologis, seperti hutan dan lahan ketimbang meregenerasi planet ini setiap tahun.

Konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan, misalnya, menyebabkan lebih banyak emisi karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global.

Kita membutuhkan bio-kapasitas 1,75 Bumi untuk memenuhi kebutuhan populasi dunia saat ini secara berkelanjutan, menurut Global Footprint Network dan WWF.

Laporan iklim PBB terbaru menyebutkan pertumbuhan populasi sebagai salah satu pendorong utama peningkatan gas rumah kaca. Namun, itu memainkan peran yang lebih kecil jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

"Kita bodoh. Kita tidak memiliki pandangan jauh ke depan. Kita serakah. Kita tidak menggunakan informasi yang kita miliki. Di situlah letak pilihan dan masalahnya," kata Cohen.

Dia menolak gagasan bahwa bertambahnya manusia adalah kutukan bagi planet ini. Ia mengatakan bahwa manusia harus diberi pilihan yang lebih baik.

Dampak kita di planet ini lebih didorong oleh perilaku kita, bukan jumlah kita. Malas dan merusak, lalu menyalahkan kelebihan populasi, " kata Jennifer Sciubba, seorang peneliti di Wilson Center.

Hal ini, menurutnya, memungkinkan orang-orang di negara-negara kaya, yang paling banyak mengonsumsi, menimpakan kesalahan terkait kesengsaraan planet ini ke negara-negara berkembang di mana pertumbuhan populasi tertinggi.

"Sungguh, ini adalah perbuatan kita. Saya, juga Anda. AC yang saya nikmati, kolam yang saya miliki, dan daging yang saya makan yang menyebabkan lebih banyak kerusakan," ujarnya.

Jika semua orang di planet ini hidup seperti warga negara India, kita hanya membutuhkan kapasitas 0,8 Bumi per tahun, menurut Global Footprint Network dan WWF. Jika kita semua mengkonsumsi seperti penduduk Amerika Serikat, kita membutuhkan lima Bumi setahun.

Pengendalian populasi

PBB memperkirakan bahwa planet kita akan menjadi rumah bagi 9,7 miliar orang pada tahun 2050. Salah satu pertanyaan tersulit yang muncul ketika membahas kependudukan adalah mengendalikan fertilitas. Bahkan mereka yang percaya kita perlu menurunkan populasi Bumi, bersikeras untuk melindungi hak-hak perempuan.

Robin Maynard, direktur eksekutif Population Matters, mengatakan perlu ada penurunan populasi, tetapi hanya melalui cara-cara yang positif, sukarela, menghormati hak, bukan contoh yang menyedihkan dari pengendalian populasi.

Daftar Project Drawdown mencantumkan pendidikan dan keluarga berencana di antara 100 solusi teratas untuk menghentikan pemanasan global.

"Populasi yang lebih kecil dengan tingkat konsumsi yang berkelanjutan akan mengurangi permintaan akan energi, transportasi, material, makanan, dan sistem alam," tulis mereka.

Vanessa Perez dari World Resources Institute setuju bahwa setiap orang yang lahir di planet ini memberi beban tambahan pada Bumi.

"Ini adalah masalah yang sangat pelik," katanya, menambahkan bahwa kita harus menolak gagasan bahwa elit menangkap narasi ini dan mengatakan kita perlu membatasi pertumbuhan populasi.

Dia yakin debat yang paling menarik bukanlah tentang jumlah orang, tetapi distribusi dan pemerataan sumber daya.

Cohen menunjukkan bahwa meskipun saat ini kita menghasilkan cukup makanan untuk 8 miliar orang, masih ada 800 juta orang yang mengalami kurang gizi kronis.

"Konsep 'terlalu banyak' menghindari masalah yang jauh lebih sulit, yaitu: apakah kita menggunakan apa yang kita ketahui untuk menjadikan manusia yang kita miliki sehat, produktif, bahagia, damai, dan sejahtera semampu kita?," tutupnya.



Simak Video "Ungkapan Terima Kasih Elon Musk untuk Pengiklan yang Balik ke Twitter"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT