Mitos Hari Tanpa Bayangan: Cuaca Lebih Panas dan Telur Bisa Berdiri

ADVERTISEMENT

Mitos Hari Tanpa Bayangan: Cuaca Lebih Panas dan Telur Bisa Berdiri

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 21 Feb 2022 20:13 WIB
Fenomena alam Jakarta Tanpa Bayangan terjadi pada hari ini jam 11.39 WIB. Namun, pantauan di lapangan bayangan tidak sempurna di Jakarta.
Mitos Hari Tanpa Bayangan: Cuaca Lebih Panas dan Telur Bisa Berdiri. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Saat Hari Tanpa Bayangan terjadi, Matahari tepat berada di atas wilayah kita sehingga tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tidak berongga saat tengah hari. Ada mitos yang menyertai fenomena astronomi ini, kalian mungkin pernah dengar?

Mitos pertama, menyebutkan fenomena Hari Tanpa Bayangan mengakibatkan cuaca menjadi lebih panas dari hari-hari biasanya. Tentu saja ini salah kaprah.

Dijelaskan peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Andi Pangerang, saat terjadi fenomena Hari Tanpa Bayangan, sinar Matahari memang akan datang tegak lurus permukaan Bumi sehingga intensitas penyinaran atau radiasi Matahari akan maksimum.

"Akan tetapi, hal ini tidak memengaruhi kenaikan suhu di permukaan Bumi saat tengah hari bagi wilayah yang mengalami Hari Tanpa Bayangan. Hal ini dikarenakan kenaikan suhu tidak hanya dipengaruhi oleh sudut penyinaran, melainkan juga oleh tutupan awan, kadar kelembaban, dan jumlah bibit awan hujan," jelas Andi seperti dikutip dari situs Edukasi Sains BRIN, Senin (21/2/2022).

Ia melanjutkan, semakin kecil tutupan awan, kadar kelembaban dan bibit awan hujan di wilayah tersebut, maka suhu permukaan Bumi akan maksimum saat tengah hari.

"Selain itu, jarak Bumi-Matahari juga sedikit berperan dalam kenaikan dan penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi meskipun hanya 2,4 derajat celcius," sebutnya.

Selain mitos meningkatnya suhu saat Hari Tanpa Bayangan, ada juga salah kaprah yang menyebutkan telur bisa berdiri tegak saat terjadi fenomena ini.

Menjawab hal ini, Andi menjelaskan bahwa secara fisika, gaya pasang surut/kuncian yang diakibatkan oleh Matahari memang bernilai maksimum saat sinar Matahari tegak lurus permukaan Bumi yang mengalami Hari Tanpa Bayangan.

Sementara itu, bagian di dalam cangkang telur seperti kuning telur dan putih telur tersusun dari larutan suspensi yang merupakan campuran antara air dan protein.

"Akan tetapi, gaya pasang surut hanya memengaruhi secara signifikan terhadap zat cair yang bermassa cukup besar seperti samudra di permukaan Bumi," kata Andi.

Untuk diketahui, massa samudra Bumi adalah sekitar 1,35 kuintiliun (10 pangkat 18) ton. Hal ini dikarenakan besarnya gaya pasang surut dari Matahari terhadap Bumi yang dialami benda bermassa 1kg hanya sekitar seperduapuluh juta gaya gravitasi yang dialami benda yang bermassa sama.

Sedangkan massa satu butir telur, termasuk cangkang, sekitar seperenambelas kg (62,5 gram). Jika massa cangkang telur sekitar 10% dari keseluruhan massa telur, maka massa telur tanpa cangkang sekitar 56,2 gram. Sehingga, gaya pasang surut yang dialami telur tidak signifikan.

"Menegakkan telur sebenarnya dapat dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu ekuinoks (bagi pengamat di ekuator) maupun Hari Tanpa Bayangan. Selama permukaan yang digunakan untuk menegakkan terdapat sedikit cekungan kecil sehingga dapat menopang ujung telur yang bulat," tutupnya.

[Gambas:Youtube]



(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT