BMKG Peringatkan Cilegon Banten Rentan Dihantam Gempa dan Tsunami

BMKG Peringatkan Cilegon Banten Rentan Dihantam Gempa dan Tsunami

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 18 Feb 2022 15:30 WIB
Seismograph with paper in action and earthquake - 3D Rendering
Foto: Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Petrovich9)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mewanti-wanti Pemerintah Provinsi Banten terkait ancaman gempa Bumi dan tsunami yang berpotensi menghantam wilayah Banten. Salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana gempa dan tsunami adalah Kota Cilegon.

"Letak Cilegon yang berada di ujung barat pulau Jawa, di tepi Selat Sunda selain strategis juga menyimpan potensi bahaya yang cukup besar jika sewaktu-waktu terjadi gempa Bumi dan tsunami," ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat melakukan audiensi dengan Gubernur Banten Wahidin Halim di Rumah Dinas Gubernur Banten, baru-baru ini.

Seperti dikutip dari situs BMKG, selama ini Cilegon dikenal sebagai kota industri lantaran banyaknya industri di kota tersebut. Selain itu, di Cilegon terdapat berbagai macam objek vital negara antara lain Pelabuhan Merak, Pelabuhan Cigading Habeam Centre, Kawasan Industri Krakatau Steel, PLTU Suralaya, PLTU Krakatau Daya Listrik, Krakatau Tirta Industri Water Treatment Plant, (Rencana Lot) Pembangunan Jembatan Selat Sunda dan (Rencana Lot) Kawasan Industri Berikat Selat Sunda.

Apabila terjadi gempa Bumi kuat yang diikuti tsunami, menurut Dwikorita, Kawasan Industri Cilegon ini menyimpan potensi bahaya berupa bencana kegagalan teknologi yang dapat menimbulkan kerugian berupa kerusakan infrastruktur, lingkungan, maupun cidera, penyakit bahkan kematian pada manusia.

"Artinya, ada multi ancaman yang membahayakan masyarakat Kota Cilegon dan sekitarnya saat terjadi gempa Bumi kuat yang diikuti tsunami," tuturnya.

Dwikorita menerangkan, sekurang-kurangnya terdapat 4 sumber potensi gempa Bumi dan tsunami di area tersebut:

  1. Zona Megathrust berstatus rawan gempa Bumi dan tsunami
  2. Zona Sesar Mentawai, Semangko, dan Ujung Kulon berstatus rawan gempa Bumi dan tsunami
  3. Zona Graben Selat Sunda berstatus rawan longsor dasar laut
  4. Gunung Anak Krakatau yang jika terjadi erupsi dapat memicu tsunami.

Ancaman Ikutan Jika Terjadi Gempa dan Tsunami

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan BMKG, jika gempa terjadi di Zona Megathrust Selat Sunda, terdapat potensi kekuatan gempa hingga mencapai magnitudo 8,7. Diperkirakan kawasan Cilegon akan terdampak dengan tingkat intensitas guncangan VI-VII MMI, yang dapat menimbulkan kerusakan ringan, sedang, hingga berat.

Sementara dengan kekuatan maksimum 8.7 tersebut, maka potensi genangan tertinggi diperkirakan mencapai 8,28 m yaitu di sekitar kawasan Pelabuhan Merak (Kota Cilegon). Hal ini dikarenakan posisi pelabuhan yang berada pada Teluk yang menghadap celah sempit (selat) berseberangan dengan Pulau Merak Besar, yang memungkinkan terjadinya amplifikasi atau penguatan gelombang tsunami di lokasi tersebut.

Adapun genangan tsunami diperkirakan mencapai jarak maksimum sekitar 1,5 km dari tepi pantai di Kelurahan Tegalratu, Kecamatan Ciwandan dan Kelurahan Warnasari, Kecamatan Citangkil di Kota Cilegon, yang merupakan kawasan yang landai.

"Bencana ikutan akibat gempa dan tsunami juga berpotensi terjadi di kawasan industri Cilegon, berupa kebakaran, sebaran zat kimia yang berbahaya, ledakan akibat bahan kimia, ataupun tumpahan minyak," imbuhnya.

Maka dari itu, tambah dia, BMKG merekomendasikan kepada Pemerintah Provinsi Banten untuk segera membangun dan memperkuat sistem mitigasi gempa Bumi dan tsunami melalui upaya penyiapan sarana evakuasi (sirine, jalur, rambu, tempat evakuasi), command center, serta edukasi dan latihan rutin untuk seluruh masyarakat, pengelola industri dan pariwisata.

Pemprov Banten juga harus membangun sarana penyebarluasan informasi secara cepat seperti jaringan radio dan jaringan komunikasi lainnya, serta menyiapkan peralatan untuk mendapatkan akses langsung informasi gempa dan peringatan dini tsunami dari BMKG.

"Perlu juga segera disusun SOP Bersama, yang melibatkan seluruh elemen termasuk Pemerintah Daerah, industri, rumah sakit dan pariwisata, untuk dapat melakukan respon cepat, mengingat potensi bahaya ikutan di kawasan strategis Cilegon sangat tinggi," jelas Dwikorita.

Untuk meminimalisir risiko korban jiwa, Pemprov Banten harus secara terus menerus dan seluas-luasnya menyebarluaskan informasi kerawanan dan kewaspadaan terhadap risiko gempa dan tsunami, serta ancaman ikutannya kepada seluruh pihak dan masyarakat di Kawasan Strategis Cilegon.

"Masyarakat harus dilatih, utamanya yang berada di kawasan pantai dan pelabuhan. Tidak bisa sekali, tapi harus berkali-kali secara berkelanjutan. Dengan begitu, jika sewaktu-waktu terjadi bencana, mereka siap dengan berbagai skenario yang telah disusun sebelumnya," Dwikorita mengingatkan.

Simak juga 'Tak Bisa Sendiri Memitigasi Bencana, BMKG Perlu Kolaborasi Pentaheliks':

[Gambas:Video 20detik]



(rns/rns)