Varian Corona Omicron Muncul Akibat Ketimpangan Vaksin

Varian Corona Omicron Muncul Akibat Ketimpangan Vaksin

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 21 Jan 2022 15:14 WIB
Tujuan vaksin booster sebenarnya sebagai proteksi terhadap varian baru Corona yakni Omicron. Apa saja tujuan vaksin booster?
Ketimpangan Vaksin Sebabkan Kemunculan Varian Corona Omicron. Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Jakarta -

Ketimpangan vaksin akan berdampak pandemi tidak selesai-selesai. Kemunculan varian Corona Omicron di Afrika Selatan contohnya, banyak dikaitkan dengan fenomena ketimpangan vaksin di negara berkembang.

Dalam beberapa minggu terakhir, penyebaran COVID-19 meningkat pesat karena munculnya Omicron. Pertama kali terdeteksi oleh para ilmuwan Afrika Selatan pada November 2021, varian ini telah melonjak secara global lebih cepat daripada bentuk sebelumnya.

Para ilmuwan pertama kali mengenali Omicron berkat kombinasi khasnya yang terdiri dari lebih dari 50 mutasi. Beberapa dari mereka dibawa oleh varian sebelumnya seperti Alpha dan Beta, dan eksperimen sebelumnya telah menunjukkan bahwa varian ini dapat memungkinkan virus Corona menyebar dengan cepat.

Omicron dinyatakan sebagai 'variant of concern' oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO pada 26 November 2021. Sejak itu, Omicron telah diidentifikasi di lebih dari 80 negara. Mereka yang sudah divaksinasi lengkap sebagian besar masih terlindungi dari penyakit parah.

Bagaimana ketimpangan vaksin munculkan varian baru

Ketimpangan vaksin adalah suatu keadaan di mana negara-negara maju, memiliki stok vaksin yang melimpah dan telah berhasil memvaksinasi sebagian besar populasinya. Sedangkan negara berkembang, masih kesulitan untuk memiliki stok vaksin yang cukup bagi kelompok-kelompok prioritas.

Dikutip dari Our World in Data, persentase orang yang divaksin di Afrika masih sangat rendah jika dibandingkan laju vaksinasi di dunia apalagi beberapa negara maju sudah mulai menerapkan booster vaksin.

Afrika Selatan dan Botswana baru berhasil memvaksinasi 26,6% dan 43% penduduknya. Jika dihitung secara keseluruhan, benua Afrika baru berhasil memvaksinasi 9,5% penduduknya.

"Prioritas di setiap negara dan secara global harus melindungi yang paling rentan, bukan yang paling terlindungi," kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku direktur jenderal WHO, dikutip dari The Organization for World Peace.

Perlu diketahui, vaksin melindungi kelompok rentan dari gejala berat. Semakin banyak orang yang belum divaksin, semakin banyak yang berisiko mengalami gejala berat. Mutasi virus, kerap terjadi pada pasien bergejala berat. Artinya, makin banyak yang belum divaksin, peluang mutasi virus Corona makin tinggi.

Kendala distribusi vaksin

Negara-negara kaya (AS, Uni Eropa, Australia, Swiss, Inggris, Kanada) berkomitmen untuk mendonasikan vaksin. Namun, hal ini terkendala masalah distribusi.

Dr William Moss, spesialis epidemiologi dan kesehatan internasional di Johns Hopkins University, diperlukan empat "D" agar kampanye vaksin berjalan efektif dan distribusi vaksin bisa merata, yaitu: doses (dosis), delivery (pengiriman), demand (permintaan), dan data.

"Untuk mengantarkan vaksin Corona agar sampai ke orang-orang yang memerlukan adalah tantangan besar. Dibutuhkan sistem distribusi suhu dingin (cold chain), dan sistem transportasi serta petugas kesehatan untuk dapat mengirimkannya," ujarnya.

Bahkan kalaupun ada cukup petugas kesehatan yang menyuntikkan vaksin, kekhawatiran akan kurangnya pasokan vaksin tetap ada. Sementara itu, di negara seperti AS, banyak yang dapat divaksinasi penuh bahkan menerima suntikan booster.

Sedihnya, AS membuang setidaknya 15 juta dosis vaksin kedaluwarsa hingga September 2021. Kanada pun membuang 1 juta dosis vaksin kedaluwarsa hingga November 2021.

Banyak ahli menyerukan "line-swapping" yang mengacu pada negara-negara kaya membantu memungkinkan negara-negara miskin agar bisa ikut berada di depan dalam daftar distribusi vaksin untuk memperbaiki disparitas.

NBC News dalam laporannya seperti dilansir Jumat (21/1/2022) menuliskan bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat menyelesaikan pandemi ini sendirian. Jika negara-negara kaya seperti AS dan Inggris tidak mau menyumbangkan lebih banyak vaksin, pandemi ini tidak akan pernah berakhir.

Jika masih banyak kelompok rentan yang belum divaksin, akan lebih banyak varian Corona baru menyebar, tak hanya Omicron. Solusinya adalah mendistribusikan lebih banyak vaksin, meningkatkan produksi vaksin, serta berbagi kekayaan intelektual tentang bagaimana vaksin dapat dibuat.



Simak Video "Covid RI 23 Mei: Pasien Sembuh Tambah 929, Kematian 12"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)