Apa Itu Tsunami dan Penyebabnya

Apa Itu Tsunami dan Penyebabnya

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 14 Des 2021 14:21 WIB
Nelayan duduk menatap ombak di pinggiran Pantai Pondok Perasi Ampenan, Mataram, NTB, Rabu (16/12/2020). Sebagian besar nelayan di daerah tersebut tidak melaut karena imbauan BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, yang menyatakan kondisi cuaca NTB untuk tiga hari ke depan berpotensi terjadi gelombang tinggi yang mencapai 1 hingga 2 meter atau lebih di perairan selat Lombok bagian utara dan selatan. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.
Apa Itu Tsunami dan Penyebabnya. Foto: ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI
Jakarta -

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan peringatan dini tsunami terkait gempa bumi magnitudo 7,4 di NTT sudah berakhir. Keputusan ini dibuat setelah berlalu 2 jam setelah gempa pertama terjadi. Mari mengenal lebih jauh tentang tsunami.

Dikutip dari situs BMKG, tsunami berasal dari bahasa Jepang yaitu "tsu" yang berarti pelabuhan, dan "nami" berarti gelombang. Secara harfiah, tsunami berarti ombak besar di pelabuhan atau pasang laut yang besar di pelabuhan.

Masyarakat Jepang menyebutnya demikian karena gelombang tsunami baru tampak dan dapat dirasakan kekuatannya ketika telah mencapai pelabuhan.

Panjang garis pantai Indonesia seluruhnya 54.716 km. Sekitar 30.963 km atau 57% memiliki potensi tinggi terkena dampak tsunami. Sebagian besar tsunami di Indonesia adalah tsunami lokal yang disebabkan gempa Bumi tektonik.

Dengan demikian, masyarakat di daerah gempa akan menerima peringatan alami yaitu gempa Bumi tersebut. Jika masyarakat merasakan goncangan yang kuat atau gempa yang berayun lemah tapi lama, masyarakat diminta segera melakukan evakuasi mandiri.

Penyebab tsunami

Sebagian besar tsunami di Indonesia memang terjadi setelah peristiwa gempa Bumi, terutama gempa Bumi yang diikuti dengan dislokasi atau perpindahan masa tanah atau batuan yang sangat besar di bawah air laut atau danau.

Penyebab tsunami lainnya adalah tanah longsor di bawah tubuh air laut, letusan gunung api di bawah laut dan gunung api pada sebuah pulau, gempa laut, atau hantaman meteor di laut.

Jika terjadi tsunami

Jika air laut surut dari batas normal, tsunami kemungkinan akan terjadi. BMKG mengingatkan agar warga jangan panik, namun tetap waspada. Jangan pula menjadikan gelombang tsunami sebagai tontonan. Apabila gelombang tsunami dapat dilihat, berarti kita berada di kawasan yang berbahaya. Ini yang harus dilakukan:

  • Bergeraklah dengan cepat ke tempat yang lebih tinggi, ajak keluarga dan orang di sekitar turut serta
  • Tetap di tempat yang aman sampai air laut benar-benar surut
  • Jika sedang berada di pinggir laut atau dekat sungai, segera berlari sekuat-kuatnya ke tempat yang lebih tinggi
  • Kalau memungkinkan, berlarilah menuju bukit yang terdekat
  • Jika situasi memungkinkan, pergilah ke tempat evakuasi yang sudah ditentukan
  • Jika situasi tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan seperti di atas, carilah bangunan bertingkat yang bertulang baja (ferroconcrete building), gunakan tangga darurat untuk sampai ke lantai yang paling atas, sedikitnya sampai ke lantai 3.


Simak Video "BMKG Dorong Peran Ahli Konstruksi dalam Mitigasi Ancaman Gempa Bumi dan Tsunami"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)