Seram! 6 Tanda Cuaca Ekstrem yang Kini Dianggap Biasa

ADVERTISEMENT

Seram! 6 Tanda Cuaca Ekstrem yang Kini Dianggap Biasa

Fino Yurio Kristo - detikInet
Senin, 01 Nov 2021 22:38 WIB
Banjir bandang di Jerman
Banjir bandang di Jerman. Foto: AP/Boris Roessler
Jakarta -

Pada zaman dulu, cuaca ekstrem adalah kejadian yang cukup jarang. Akan tetapi sekarang, seiring dengan perubahan iklim dan pemanasan global, maka cuaca ekstrem telah menjadi sesuatu yang normal.

Itulah yang tertera dalam laporan State of the Climate edisi 2021. Dikutip detikINET dari BBC, Senin (1/11/2021) temperatur rata-rata dari 2002 berada dalam jalur naik 1 derajat Celcius di atas masa pra industri, untuk pertama kalinya. Kemudian level air laut mencetak rekor kenaikan di 2021.

Suhu dalam 7 tahun terakhir termasuk yang terpanas dalam sejarah terkait konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. "Peristiwa cuaca ekstrem saat ini sudah menjadi normal baru. Ada banyak bukti sains bahwa hal itu merupakan akibat perubahan iklim karena manusia," kata Profesor Petter Taalas dari WMO yang menggelar riset tersebut.

Berikut beberapa tandanya:

  • Untuk pertama kalinya tercatat ada hujan turun, bukan salju, di puncak gunung es Greenland.
  • Gelombang panas di Kanada dan sebagian wilayah Amerika Serikat membuat temperatur hampir mencapai 50 derajat Celcius di British Columbia.
  • Area Death Valley di California mencapai suhu 54,4 derajat Celcius dalam beberapa kali event gelombang panas.
  • Hujan yang biasanya untuk volume sebulan, turun habis dalam beberapa jam sekaligus di beberapa area di China dan terjadilah banjir bandang.
  • Beberapa area di Eropa mengalami banjir parah dengan lusinan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang masif.
  • Dalam dua tahun berturut-turut terjadi kekeringan di Amerika Selatan yang sub tropis, menurunkan aliran air dan mengganggu pertanian, transportasi serta produksi energi.
  • Kemudian ketinggian air laut naik dua kali lipat di tahun 2013 sampai 2021 karena melelehnya gletser.

"Air laut naik lebih cepat saat ini dibandingkan waktu lain di dua ribu tahun ke belakang. Jika terus begini, kenaikan bisa mencapai 2 meter di 2100, berdampak pada 630 juta orang di dunia," cetus Jonathan Bomber, ilmuwan dari Bristol Glaciology Centre.

Maka tidak ada solusi lain, perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem harus diantisipasi dengan serius. Jika tidak, maka akibatnya bisa menyeramkan di masa depan.



Simak Video "Nelayan di Jepang Terdampak Perubahan Iklim, Tangkapan Berkurang"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT