Fosil Wanita Indonesia Bisa Ubah Sejarah Manusia Purba

Fosil Wanita Indonesia Bisa Ubah Sejarah Manusia Purba

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 08 Okt 2021 09:11 WIB
manusia purba
Bagian kerangka purba Besse yang ditemukan di Gua Leang Paningge difoto di dalam sebuah kotak di laboratorium arkeologi Universitas Hasanuddin di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, 18 September 2021. Foto: Reuters
Jakarta -

Jejak genetik dalam tubuh seorang wanita muda yang meninggal 7.000 tahun lalu memberikan petunjuk pertama bahwa pencampuran antara manusia purba di Indonesia dan mereka yang berasal dari Siberia, terjadi jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Analisis asam deoksiribonukleat (DNA) atau sidik jari genetik dari seorang wanita di pemakaman ritual di gua Indonesia berkontribusi mengubah teori tentang migrasi manusia purba di Asia. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature pada Agustus lalu.

"Ada kemungkinan bahwa wilayah Wallacea bisa menjadi titik pertemuan dua spesies manusia, antara Denisovans dan homo sapiens awal," kata Basran Burhan, seorang arkeolog dari Universitas Griffith Australia, dikutip dari Reuters.

Burhan, salah satu ilmuwan yang ikut dalam penelitian tersebut, merujuk pada wilayah Indonesia yang mencakup Sulawesi Selatan, tempat ditemukannya jasad dengan batu di tangan dan panggulnya, ditemukan di kompleks gua Leang Pannige.

manusia purbaArkeolog dari Universitas Hasanuddin, Griffith University dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) mengunjungi Gua Leang Panninge saat penelitian batu purba di Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, 19 September 2021. Foto: Reuters

Denisovans adalah sekelompok manusia purba yang dinamai dari sebuah gua di Siberia tempat jenazah mereka pertama kali diidentifikasi pada tahun 2010. Para ilmuwan hanya memahami sedikit tentang mereka, bahkan detail penampilan mereka.

DNA dari Besse, demikian para peneliti menamai wanita muda di Indonesia (berasal dari istilah bayi perempuan yang baru lahir dalam bahasa daerah Bugis), adalah salah satu dari sedikit spesimen yang terpelihara dengan baik yang ditemukan di daerah tropis.

Para ilmuwan menyebutkan, ini menunjukkan dia keturunan dari orang-orang Austronesia yang umum di Asia Tenggara dan Oseania, serta sebagian kecil Denisovan.

"Analisis genetik menunjukkan bahwa penjelajah pra-Neolitikum ini mewakili garis keturunan manusia yang berbeda yang sebelumnya tidak diketahui," kata mereka.

manusia purbaIwan Sumantri, dosen arkeologi dan antropologi di Universitas Hasanuddin, menjelaskan bagian dari kerangka purba Besse yang digali dari gua Leang Paningge, di laboratorium Universitas Hasanuddin di Makassar, provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, 18 September 2021. Foto: Reuters

Karena para ilmuwan sampai saat ini mengira orang Asia Utara seperti Denisovans baru tiba di Asia Tenggara sekitar 3.500 tahun lalu, DNA Besse mengubah teori tentang pola migrasi manusia purba.

Penemuan ini juga dapat mengungkap wawasan tentang asal usul orang Papua dan penduduk asli Australia yang memiliki DNA Denisovan.

"Teori tentang migrasi akan berubah, teori tentang ras juga akan berubah," kata Iwan Sumantri, dosen Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan, yang juga terlibat dalam proyek penelitian tersebut.

Dia menambahkan, jenazah Besse mengungkapkan tanda pertama Denisovans di antara Austronesia, yang merupakan kelompok etnis tertua di Indonesia.

"Sekarang coba bayangkan bagaimana mereka menyebarkan dan mendistribusikan gen mereka untuk mencapai Indonesia," kata Sumantri.



Simak Video "Studi: Hanya 7% Populasi Dunia yang Punya DNA Unik 'Manusia Modern'"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)