Apa Itu Geohidrometeorologi, Bencana yang Disebut Presiden Jokowi

Apa Itu Geohidrometeorologi, Bencana yang Disebut Presiden Jokowi

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 30 Jul 2021 09:41 WIB
Ilustrasi Hujan Deras Angin Kencang Genangan Air
Apa Itu Geohidrometeorologi, Bencana yang Disebut Presiden Jokowi. Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut, bencana geohidrometeorologi di Indonesia meningkat signifikan setiap tahunnya. Cuaca pun saat ini banyak dipengaruhi perubahan iklim dan multibencana terjadi di waktu yang bersamaan.

Hal ini disampaikan Jokowi dalam acara Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kamis (29/7). Jokowi mengingatkan agar kita semua meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi tersebut.

"Negara kita Indonesia ini memiliki risiko bencana geohidrometeorologi yang tinggi. Jumlah kejadian bencana geohidrometeorologi meningkat signifikan setiap tahunnya," ujarnya.

Apa itu geohidrometeorologi yang disebut oleh Presiden Jokowi? Bencana geohidrometeorologi atau hidrometeorologi menjadi istilah yang mulai sering dibahas dalam isu lingkungan beberapa tahun belakangan.

Dikutip dari National Geographic, pada dasarnya, bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang disebabkan oleh parameter-parameter meteorologi, seperti suhu, tekanan, curah hujan, angin, kelembapan, dan yang lainnya. Contoh bencana ini meliputi banjir, kekeringan, badai, dan tanah longsor.

Diperparah ulah manusia dan perubahan iklim

Meningkatnya bencana hidrometeorologi juga diperparah oleh kerusakan lingkungan akibat ulah manusia (antropogenik) dan faktor perubahan iklim. Khusus untuk banjir, longsor, dan puting beliung, penyebab dominannya lebih ke antropogenik.

Eksploitasi lingkungan dan sumber daya alam, perluasan lahan, serta perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan atau sawah pertanian dan permukiman tanpa diikuti kaidah-kaidah konservasi tanah dan air, menyebabkan bencana jadi lebih sering terjadi.

Tak hanya banjir dan longsor, kepadatan penduduk juga menyebabkan perubahan tekanan udara sehingga berpeluang terjadi angin puting beliung karena udara bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah.

Laporan dari Global Humanitarian Forum mengatakan, bencana hidrometeorologi akan menjadi ancaman terbesar manusia pada tahun-tahun mendatang. Apalagi ditambah dengan pemanasan global yang berdampak pada menghangatnya suhu dan mencairnya es di kutub.

Perubahan iklim menjadi penyebab meningkatnya bencana hidrometeorologi karena secara nyata telah mempengaruhi terjadinya perubahan watak hujan dan cuaca. Tidak hanya polanya, tapi intensitas, durasi, dan sebaran curah hujan juga berubah.

Untuk mengatasi bencana hidrometeorologi, perlu dilakukan pengembangan teknologi, pemantauan dan prediksi kebencanaaan, penyusunan tata ruang yang sesuai tingkat kerentanan bencana, serta kampanye untuk peningkatan pemahaman dampak dan pengurangan risiko bencana.

Presiden Jokowi sendiri menyebutkan, peringatan dini dari BMKG harus menjadi rujukan dan digunakan oleh para pengambilan keputusan, baik di pemerintah pusat, daerah dan berbagai sektor. Penting bagi suatu instasi maupun pihak-pihak mana pun merancang kebijakan dan pembangunan memerhatikan antisipasi kerawanan bencana.⠀



Simak Video "Musim Hujan Diprediksi Tiba Lebih Awal, Waspadai Hujan Ekstrem"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)