Wisata Luar Angkasa Menyenangkan, Tapi Bahayakan Bumi

Wisata Luar Angkasa Menyenangkan, Tapi Bahayakan Bumi

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 20 Jun 2021 05:45 WIB
Pesawat Lynx untuk wisata luar angkasa milik XCOR. Masih dalam percobaan.
Wisata Luar Angkasa Menyenangkan, Tapi Bahayakan Bumi. Foto: XCOR
Jakarta -

Program luar angkasa memiliki dampak pada lingkungan yang tak sedikit. Untuk penelitian, mungkin segala usaha dan biaya yang dikeluarkan sepadan. Tapi untuk wisata luar angkasa? Coba dipikir lagi.

Sejumlah perusahaan teknologi luar angkasa termasuk SpaceX, Virgin Galactic, dan Space Adventures ingin membuat wisata antariksa menjadi umum dilakukan. Sialnya, banyak orang, terutama yang berduit, tertarik dengan ide ini.

Jika mengingat Bumi sedang dilanda krisis iklim, sesungguhnya mengirim para miliarder ke luar angkasa dengan roket mungkin bukan keputusan yang ramah lingkungan.

Tentunya ada harga yang harus dibayar dari semua ini. Misalnya, roket terbakar yang lepas landas dan mendarat. Entah itu minyak tanah di roket Falcon 9 SpaceX, metana di Starship, atau hidrogen cair di Space Launch System (SLS) NASA yang baru, membakar semua bahan itu berdampak pada atmosfer Bumi.

"Tak peduli bahan bakar apa yang digunakan, semua peluncuran memancarkan banyak panas yang mengaduk nitrogen di atmosfer untuk menciptakan oksida nitrogen yang mengganggu, " kata Eloise Marais, profesor geografi fisik di University College London.

Marais mempelajari dampak bahan bakar dan industri di atmosfer. Disebutkannya, tergantung di mana mereka dilepaskan di ketinggian, oksida nitrogen dapat berkontribusi pada pembentukan ozon atau penipisan ozon.

Di stratosfer, di mana ozon bertindak sebagai perisai terhadap radiasi ultraviolet dari Matahari, panas itu dapat menggerogoti ozon. Di troposfer lebih dekat ke tanah, panas itu bisa menambah ozon. Sayangnya, di sana ia lebih bertindak seperti gas rumah kaca dan menahan panas. Selain itu, bahan bakar yang berbeda merusak atmosfer dengan cara yang berbeda.

Bahkan sebelum peluncuran ke luar angkasa marak dilakukan, produksi propelan sudah berdampak pada lingkungan. Metana dapat diperoleh melalui fracking atau cara ekstraksi lainnya, yang memunculkan sejumlah masalah. Dan pengadaan kaleng hidrogen super dingin menghasilkan emisi gas rumah kaca, tergantung metode yang digunakan. Untuk diketahui, setiap peluncuran menggunakan ribuan ton propelan untuk mencapai luar angkasa.

Jika peluncuran roket menjadi lebih umum, pengaruhnya terhadap lingkungan tentu akan meningkat. Marais menunjukkan bahwa kita belum mengetahui efek penuh bahan bakar roket terhadap atmosfer dan lingkungan, karena para peneliti baru saja mulai mempelajari topik tersebut.

Selain itu, dibutuhkan banyak baja dan aluminium untuk membuat roket. Untuk setiap ton baja yang diproduksi, 1,9 ton karbon dioksida dipancarkan. Jumlah itu meningkat menjadi 11,5 ton untuk aluminium. Sebuah Starship kosong terbuat dari sekitar 200 ton paduan baja. Itu tidak termasuk roket, yang beratnya diperkirakan 300 ton.

Ini memang harga yang mahal untuk dibayar atas nama sains. Tetapi setidaknya, ada beberapa manfaatnya. Misalnya, program luar angkasa telah mengajari kita banyak hal tentang alam semesta dan planet kita, termasuk informasi penting tentang pola cuaca dan efek perubahan iklim.

Tapi bayangkan masa depan di mana kita bisa dengan mudah memesan tiket wisata luar angkasa. Jika roket meledak terus-menerus, efek negatifnya akan menumpuk.

"Sebelum kita memutuskan seperti apa wisata luar angkasa itu. Kita harus melakukan studi semacam ini untuk melihat apa dampaknya terhadap lingkungan," tutup Marais.



Simak Video "LAPAN Berharap Ambisi Komersialisasi Antariksa Menular ke Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)