Mengenal Makhluk Hitam Misterius di Agam yang Ternyata Beruang Madu - Halaman 2

Mengenal Makhluk Hitam Misterius di Agam yang Ternyata Beruang Madu

Tim - detikInet
Rabu, 09 Jun 2021 17:11 WIB
Penampakan makhluk misterius di Agam, Sumbar, ternyata beruang madu.
Foto: dok. KSDA Agam

Makanan

Beruang madu adalah omnivora yang memakan apa saja di hutan. Mereka memakan buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, termasuk juga tunas tanaman jenis palem.

Mereka juga memakan serangga, madu, burung, dan binatang kecil lainnya. Apabila beruang madu memakan buah, biji ditelan utuh, sehingga tidak rusak. Setelah buang air besar, biji yang ada di dalam kotoran mulai tumbuh sehingga beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan buah berbiji besar seperti cempedak, durian, lahung, kerantungan dan banyak jenis lain.

Cara berkembang biak

Beruang madu tidak mempunyai musim kawin. Perkawinan mereka dilakukan kapan saja terutama bila beruang madu betina telah siap kawin. Lama mengandung beruang betina adalah 95-96 hari, dan anak yang dilahirkan biasanya berjumlah dua ekor, serta disusui selama 18 bulan.

Beruang melahirkan di sarang yang berbentuk gua atau lubang pepohonan agar bayi yang terlahir tanpa bulu dan masih lemah dapat bertahan hidup. Bayi akan tetap tinggal di sarang sampai ia mampu berjalan bersama induknya mencari makanan. Bayi beruang madu diperkirakan hidup bersama induknya hingga berusia dua tahun, kemudian mulai hidup secara mandiri

Beruang madu di Indonesia

Sejak 1973, beruang madu telah dilindungi di Indonesia. Hewan ini ilegal untuk diperdagangkan, dimiliki, termasuk jika memiliki bagian-bagian tubuhnya.

Meski perlindungan hukumnya cukup bagus di atas kertas, pada hakikatnya penegakan hukum di Indonesia masih lemah dalam pelaksanaannya. Hal ini juga berlaku bagi banyak spesies langka dan terancam punah lainnya seperti orangutan, bekantan, dan macan tutul.

Pada tahun 1997, peneliti ekologi alam liar Gabriella Fredriksson dari Institute of Systematics and Population Biology dan University of Amsterdam memulai studi jangka panjangnya pada beruang madu di Hutan Lindung Sungai Wain.

Hutan Lindung Sungai Wain menjadi rumah konservasi bagi sekitar 50-100 beruang madu liar. Penelitian Gabriella dan upaya konservasinya menghasilkan publisitas dan perhatian yang terfokus pada beruang madu. Pada tahun 2002, Balikpapan, salah satu kota terbesar di Pulau Kalimantan, mengangkat beruang madu sebagai maskot resminya.

(rns/fay)