Hujan di Planet Tetangga Ternyata Mirip dengan di Bumi

Hujan di Planet Tetangga Ternyata Mirip dengan di Bumi

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 11 Apr 2021 05:45 WIB
hujan rintik-rintik di payung
Foto: ThinkStock
Jakarta -

Planet asing dan Bulan, diketahui mengalami hujan sama seperti di Bumi. Tetap saja, para ilmuwan terkejut mengetahui bahwa tetesan air hujan di planet-planet lain mirip dengan di Bumi, meski lingkungan mereka sangat berbeda.

Di seluruh tata surya kita, ada beberapa dunia berbeda di mana kita dapat menemukan hujan. Di Bumi, curah hujan biasa terjadi. Namun, penelitian juga memberitahu kita bahwa ada hujan asam sulfat di Venus, dan hujan presipitasi (hasil dari kondensasi uap air di atmosfer) terdiri dari helium dan berlian di Jupiter dan Saturnus.

Selain itu, ada pula hujan metana cair di bulan-nya Saturnus, Titan. Di Mars pun sebenarnya ada hujan, tetapi kita tidak akan melihat tetesan hujan di Planet Merah tersebut di masa sekarang. Uap air membentuk awan kristal es yang tinggi di atmosfer, tetapi terlalu dingin dan kering untuk menghasilkan tetesan hujan. Mars zaman kuno lebih hangat dan lebih basah, dan curah hujannya mungkin sebanyak yang ada di Bumi saat ini.

Bahkan, seperti dikutip dari The Weather Network, beberapa exoplanet yang mengorbit bintang selain Matahari kita juga diketahui punya hujan, meski hujannya mungkin berupa material besi atau batuan cair.

Dalam sebuah studi terbaru, dua ilmuwan Harvard University, Kaitlyn Loftus dan Robin Wordsworth, meneliti bagaimana perilaku tetesan hujan di planet lain, dibandingkan dengan perilaku mereka di lingkungan Bumi. Ternyata hasil temuannya sangat mengejutkan.

Terlepas dari betapa berbedanya sebuah planet dibandingkan Bumi, atau dari bahan apa hujan itu terbuat, ukuran maksimum tetesan hujan tidak jauh berbeda dari tetesan hujan yang kita lihat di Bumi.

"Ada kisaran yang cukup kecil dari ukuran stabil tetesan hujan dengan komposisi berbeda ini. Semuanya pada dasarnya terbatas pada ukuran maksimum yang sama," kata Loftus, penulis utama studi tersebut, dalam laporannya yang diterbitkan di American Geophysical Union (AGU).

Faktor pembatas seberapa besar tetesan hujan dapat tumbuh di planet yang beragam ini, tampaknya dipengaruhi tarikan gravitasi planet atau Bulan. Secara khusus, semakin kuat gravitasinya, semakin kecil tetesan hujannya.

hujan di planet lainFoto: American Geophysical Union

Dalam infografis di atas, tetesan hujan di setiap planet bervariasi. Namun, dengan mempertimbangkan massa relatif dan tarikan gravitasi dari planet-planet ini, perbedaan ukuran tetesan maksimum tidak selebar yang diperkirakan. Untuk diketahui, gravitasi Jupiter lebih dari 2,5 kali gravitasi Bumi, sedangkan gravitasi Titan hanya 14% dari Bumi.

Ada satu kesamaan yang sangat konsisten, yaitu bentuk tetesan hujan. 'Teardrop' atau tetesan seperti air mata adalah bentuk paling klasik yang digunakan untuk menggambarkan tetesan hujan. Tapi bentuk tetesan ini sebenarnya awalnya berbentuk bola, kemudian mendatar saat jatuh di udara. Hasil akhirnya, bentuk tetesan hujan jadi rata di bagian bawah dan membulat di bagian atas, seperti roti hamburger.

Loftus dan Wordsworth juga menerapkan perhitungan yang sama untuk planet di sistem bintang lain. Dengan melakukan itu, mereka dapat menentukan kisaran optimal dari ukuran tetesan hujan yang akan mencapai permukaan sebuah planet. Ini dilakukan dengan melihat tiga karakteristik spesifik tetesan hujan: bentuknya, kecepatan jatuh, dan laju penguapannya.

"Siklus hidup awan sangat penting ketika kita memikirkan kelayakan sebuah planet. Tapi awan dan curah hujan benar-benar rumit dan terlalu rumit untuk dimodelkan sepenuhnya. Kami sedang mencari cara yang lebih sederhana untuk memahami bagaimana awan berevolusi, dan langkah pertama adalah apakah tetesan awan menguap di atmosfer atau membuatnya muncul ke permukaan sebagai hujan," kata Loftus.

Planet mana pun yang memiliki curah hujan air signifikan yang mencapai permukaan, dapat memiliki siklus air yang terwujud sepenuhnya seperti Bumi. Dengan demikian, kemungkinan bahwa planet dengan hujan seperti itu layak huni bagi kita, akan meningkat.

"Rintik hujan yang sederhana adalah komponen penting dari siklus curah hujan untuk semua planet. Jika kita memahami bagaimana tetesan hujan berperilaku, kita dapat merepresentasikan curah hujan dengan lebih baik dalam model iklim yang kompleks. Kita bisa menggunakannya untuk memodelkan siklus awan di exoplanet," kata Wordsworth.



Simak Video "Setelah Uni Emirat Arab, Wahana China Ikutan Tiba di Mars"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)