NASA Siapkan Rp 5,7 Triliun untuk Bangun Stasiun Antariksa

NASA Siapkan Rp 5,7 Triliun untuk Bangun Stasiun Antariksa

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 30 Mar 2021 10:30 WIB
Voyager Station mengklaim akan menjadi hotel luar angkasa pertama yang bakal hadir di 2027.
Ilustrasi stasiun luar angkasa. Foto: Voyager Station
Jakarta -

NASA menawarkan kucuran dana pada perusahaan swasta yang ingin mengembangkan dan membangun stasiun luar angkasa baru. Badan antariksa nasional AS tersebut menjanjikan dana hingga USD 400 juta (sekitar Rp 5,7 triliun).

Sejauh ini, penawaran tersebut telah diajukan ke empat perusahaan swasta. Adapun pendanaan ditawarkan di bawah proyek Commercial LEO Destinations (CLD).

Privatisasi perjalanan luar angkasa dan penempatan satelit ke orbit sejatinya sangat bagus bagi NASA dan AS pada umumnya. NASA ingin meniru keberhasilan program Commercial Cargo and Commercial Crew lewat proyek CLD. NASA memperkirakan pprogram Commercial Cargo and Commercial Crew bisa menghemat anggaran sekitar USD 20 miliar hingga USD 30 miliar.

Dikutip dari Slash Gear, kucuran dana ini akan diberikan di bawah proyek CLD mulai Q4 2021 bagi perusahaan swasta terpilih yang bersedia memulai pengembangan stasiun luar angkasa mereka.

Direktur NASA LEO Phil McAllister melihat ada tiga aktivitas utama di orbit rendah Bumi, yakni transportasi kargo, transportasi awak, dan tujuan. Perusahaan swasta sudah menangani pengangkutan kargo dan awak, dan sekarang NASA ingin mereka menangani tujuan.

"Jika NASA memiliki kepemilikan penuh atas ketiga aktivitas tersebut, aspirasi manusia di orbit rendah Bumi akan selalu dibatasi oleh besarnya anggaran NASA," ujarnya.

Karena alasan tersebut, NASA berpikir bahwa melibatkan perusahaan swasta ke dalam sektor ini akan memperluas peluang menempatkan lebih banyak orang ke orbit Bumi yang rendah.

Di luar itu, motivator utama untuk program CLD adalah potensi penghematan biaya bagi NASA, dengan menjadi pengguna stasiun luar angkasa swasta daripada menjadi pemilik dan operator. Untuk diketahui, mengoperasikan ISS membebani NASA dengan biaya sekitar USD 4 miliar per tahun.

Pengembangan dan pembangunan ISS sendiri menelan biaya sekitar USD 150 miliar. NASA menanggung sebagian besar tagihan itu dengan Rusia, Eropa, Jepang, dan Kanada ikut berkontribusi. NASA juga mendorong program CLD seiring bertambahnya usia ISS setelah berada di orbit sejak 1990-an.

"Meskipun ISS adalah sistem yang luar biasa, ISS tidak akan bertahan selamanya. Sewaktu-waktu stasiun luar angkasa dapat mengalami anomali yang tidak dapat dipulihkan kapan saja," tutupnya.



Simak Video "Pendaratan Mulus Robot Canggih Perseverance NASA di Mars"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)