Kenapa Ada Orang Disuntik Vaksin COVID-19 di Pantat?

Kenapa Ada Orang Disuntik Vaksin COVID-19 di Pantat?

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 25 Feb 2021 05:44 WIB
DKI Jakarta menggelar vaksinasi COVID-19 massal bagi tenaga kesehatan (Nakes) di sejumlah puskesmas. Salah satunya di Puskesmas Kecamatan Setiabudi.
Kenapa Ada Orang Disuntik Vaksin COVID-19 di Pantat? (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Beberapa orang ada yang disuntikkan vaksin di pantat alih-alih lengan. Apakah ada manfaat berbeda yang didapatkan pasien jika disuntik di pantat?

Ya, proses vaksinasi COVID-19 sedang berlangsung secara bertahap di seluruh dunia. Meski kebanyakan orang disuntik di lengan, ada juga yang masih memilih untuk disuntik di pantat.

Salah satu dari contoh ini adalah Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Karena memilih disuntik vaksin COVID-19 di area pantat, perlakuannya tidak sama dengan petinggi negara lain. Vaksinasi Duterte tak ditampilkan di khalayak umum atas alasan etika dan kesopanan.

Dr Robert Amler dari School of Health Sciences and Practice di New York Medical College menyebutkan vaksin COVID-19 bisa bekerja di area mana pun yang disuntik yang memiliki cukup jaringan otot untuk menyerapnya.

"Dari jaringan itu, tubuh dan pada dasarnya aliran darah secara bertahap menyebarkannya. Saat ia menyebar, sistem kekebalan mendeteksinya dan seolah berkata 'hei ada sesuatu di sini dari tempat lain'," ujarnya seperti dikutip dari Slate, Kamis (25/2/2021).

Dulu, dokter menyuntik orang-orang di pantat karena maximus gluteus di area pantat adalah otot yang sangat besar. Pada dasarnya, ini hanya karena target jarum yang besar.

Dalam perkembangannya, setelah tahun 2000-an, injeksi vaksin tidak lagi disuntikkan di pantat melainkan di lengan, terutama jika penyuntikkan dilakukan di tempat yang cukup umum.

Ada tiga alasan suntikan tak lagi dilakukan di pantat. Pertama, demi kenyamanan sehingga pasien tidak harus malu menarik celana dan membutuhkan tempat yang lebih privat.

Masalah lainnya, pantat cenderung memiliki lemak. Sebagian besar vaksin, tidak bekerja dengan baik saat disuntikkan ke jaringan lemak.

Alasan terakhir adalah, menyuntikkan sesuatu ke pantat pasien, berisiko mengenai saraf skiatik. Ini bisa membuat saraf besar yang mengalir di punggung bawah hingga pantat teriritasi. Hal ini kadang-kadang menyebabkan rasa sakit yang dikenal sebagai sciatica atau linu panggul.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga sudah mulai melaksanakan vaksinasi COVID-19 sesuai Petunjuk Teknis (Juknis) penyuntikan. Berdasarkan Juknis Kemenkes, vaksin COVID-19 tidak disuntikkan secara sembarangan di tubuh karena tempat penyuntikkannya sudah ditentukan.

"Vaksin COVID-19 diberikan melalui suntikan intramuskular di bagian lengan kiri atas dengan menggunakan alat suntik sekali pakai (auto disable syringes/ADS)," demikian bunyi Juknis tersebut.

Kemenkes juga meminta peserta vaksinasi COVID-19 agar tak langsung pulang setelah disuntik. Mereka diminta untuk tinggal di tempat pelayanan vaksinasi selama 30 menit untuk observasi.

Tujuannya untuk memantau adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau setiap kejadian medis yang tidak diinginkan. Hal ini biasanya terjadi setelah disuntikkan vaksin atau imunisasi dan belum tentu memiliki hubungan kausalitas dengan vaksin.

Dalam Juknis vaksinasi COVID-19 disebutkan bahwa secara umum, vaksin tidak menimbulkan reaksi pada tubuh. Apabila terjadi, hanya menimbulkan reaksi ringan.

Reaksi yang mungkin terjadi setelah vaksinasi COVID-19 hampir sama dengan vaksin yang lain antara lain:

  • Reaksi lokal, seperti, nyeri, kemerahan, bengkak pada tempat suntikan dan reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis
  • Reaksi sistemik seperti, demam, nyeri otot seluruh tubuh (myalgia), nyeri sendi (atralgia), badan lemah, dan sakit kepala
  • Reaksi lain, seperti reaksi alergi misalnya urtikaria, oedem, reaksi anafilaksis, dan syncope (pingsan).



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)