Kasus Pencurian Vaksin Paling Bikin Geger Dunia, 75 Ribu Raib

Kasus Pencurian Vaksin Paling Bikin Geger Dunia, 75 Ribu Raib

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 23 Feb 2021 05:35 WIB
Vaksin dibutuhkan terlebih ketika terjadi pandemi atau epidemi. Namun ada orang-orang yang menolak kepentingan bersama dan ingin mengambil keuntungan sendiri dari sediaan vaksin. Salah satunya adalah kasus pencurian vaksin pernah membuat dunia geger. 75 ribu vaksin berhasil dicuri di Montreal, Kanada.

Saat itu musim panas 1959, epidemi besar poliomyelitis melanda Kanada. Québec melihat adanya kasus terbanyak tahun itu. Surat kabar melaporkan lebih dari seribu kasus dan 88 kematian.
Kasus pencurian vaksin pernah membuat dunia geger. 75 ribu vaksin berhasil dicuri di Montreal, Kanada. Foto: Victoria Daily Times
Jakarta -

Vaksin dibutuhkan terlebih ketika terjadi pandemi atau epidemi. Namun ada orang-orang yang menolak kepentingan bersama dan ingin mengambil keuntungan sendiri dari persediaan vaksin. Salah satunya adalah kasus pencurian vaksin pernah membuat dunia geger. 75 ribu vaksin berhasil dicuri di Montreal, Kanada.

Saat itu musim panas 1959, epidemi besar poliomyelitis melanda Kanada. Wilayah Québec melihat adanya kasus terbanyak tahun itu. Surat kabar melaporkan lebih dari seribu kasus dan 88 kematian.

Pada bulan Agustus, Montréal menunggu dengan putus asa untuk mendapatkan lebih banyak vaksin. Sungguh melegakan ketika ada kiriman besar-besaran vaksin yang tiba dari Connaught Labs di akhir bulan. Pasokan cukup untuk seluruh kota, surplus vaksin juga telah direncanakan untuk didistribusikan kembali ke seluruh provinsi.

Namun redistribusi tidak pernah terjadi. Seorang pria bernama Jean Paul Robinson, seorang pekerja vaksin sementara, mencoba untuk mengambil alih vaksin demi mendapat keuntungan pribadi.

Melansir Science Alert, pada jam 3 pagi tanggal 31 Agustus 1959, Robinson dan dua kaki tangannya masuk ke universitas dengan membawa pistol. Langkah pertama mereka adalah mengunci penjaga malam di kandang dengan 500 monyet lab. Pencuri kemudian membongkar kunci lemari es besar, menjarah semua kotak vaksin dan mencuri mobil penjaga sebagai kendaraan pelarian.

Akhirnya, mereka berhasil membawa kabur 75 ribu botol, senilai CAD 50 ribu (setara dengan hampir USD 500 ribu atau sekitar Rp 7 miliar lebih untuk nilai sekarang). Robinson menyewa gedung apartemen kosong dan menyimpan curiannya.

Kejahatan itu mengejutkan negara. Keesokan harinya, kota itu mengumumkan telah kehabisan persediaan vaksinnya. Pemberitaan menjadi heboh.

Polisi provinsi dipanggil, dan tim penyelidik khusus yang terdiri dari empat orang dibentuk. Mereka mulai dengan mewawancarai penjaga malam yang mengalami nasib buruk itu. Dia tidak dapat mengidentifikasi pelaku. Pelakunya saat itu mengenakan legging nilon di wajah mereka sehingga sulit untuk mengenalinya.

Akan tetapi dia tidak sengaja mendengar mereka berbicara tentang pengangkutan vaksin. Percakapan itu memberikan satu-satunya petunjuk, paling tidak salah satu pria itu akrab dengan istilah-istilah medis.

Meski begitu, polisi nampaknya lebih tertarik menemukan botol-botol vaksin itu. Robinson pun menelepon polisi, menyamar sebagai warga negara yang prihatin, dan menyatakan bahwa dia telah melihat sejumlah besar kasus mencurigakan berlabel 'Connaught Laboratories' yang dikeluarkan dari mobil di St. Hubert Street di East End.

Saat itu, Robinson sudah untung menjual 299 botol dengan harga USD 500 yang tentunya sangat lumayan. Ia menjual vaksin kepada apoteker di Pont-Viau.

Polisi dengan cepat menemukan kasus vaksin yang hilang. Tapi tidak semudah itu, agar dapat digunakan, vaksin tersebut perlu diuji secara menyeluruh. Proses ini bisa memakan waktu hingga dua bulan, yang berarti botol-botol tersebut tidak dapat digunakan meskipun ada wabah penyakit. Sedangkan untuk pengiriman baru vaksin tidak direncanakan untuk tiba beberapa minggu lagi.

Vaksin sudah didapatkan, polisi segera mengalihkan perhatian mereka untuk mengidentifikasi pelakunya. Mereka menemukan bahwa orang yang memberikan informasi kepada polisi adalah juga orang yang telah menjual 299 botol obat ke apoteker Pont-Viau.

Bukti terus meningkat terhadap Robinson ketika petugas kebersihan gedung apartemen mengidentifikasinya. Setelah menyangkal semua tuduhan, Robinson melarikan diri. Dia ditemukan tiga minggu kemudian bersembunyi di sebuah gudang kecil di sebuah pertanian terpencil.



Simak Video "WHO Minta Negara Kaya Berbagi Vaksin dengan Negara Miskin"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/ask)