5 Tahap Terjadinya Puting Beliung Waterspout Menurut LAPAN

5 Tahap Terjadinya Puting Beliung Waterspout Menurut LAPAN

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 21 Jan 2021 18:46 WIB
Puting beliung muncul di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, Rabu (20/1/2021).
5 Tahap Terjadinya Puting Beliung Waterspout Menurut LAPAN. Foto: Tangkapan layar video viral (istimewa)
Jakarta -

Kemunculan angin puting beliung di sekitar Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah pada Rabu (20/1) menghebohkan masyarakat sekitar. Perlu diketahui, puting beliung Wonogiri tersebut sebenarnya fenomena waterspout yang terjadi dalam lima tahapan.

Hal ini dijelaskan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN Dr Erma Yulihastin menyebutkan, waterspout merupakan tornado yang terkoneksi dengan air dan memiliki skala mikro.

"Karenanya, fenomena ini hanya dapat terjadi di atas danau, tambak, sungai, atau bendungan," ujarnya seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis (21/1/2021).

Erma juga menjelaskan ada 5 fase terjadinya waterspout:

  1. Fase pembentukan awal, pada tahap ini terdapat dukungan temperatur, kelembapan dan pergeseran angin yang menjadi syarat bagi pembentukannya
  2. Fase awan cerah terbentuk di atas permukaan air
  3. Awan cerah tersebut dikelilingi oleh awan di sekitarnya yang berwarna abu gelap
  4. Pembentukan corong berwarna terang yang memanjang dan berbentuk spiral
  5. Corong spiral memanjang mulai tampak oleh pengamatan visual dan di bagian permukaan air terbentuk percikan air ke segala arah.

Pada saat tahapan kelima itu, peluruhan waterspout terjadi ketika terdapat udara lembap atau uap air yang masuk ke dalam corong badainya.

Erma menjelaskan, waterspout secara visual dapat dikenali dari bentuknya yang seperti belalai atau corong pipa panjang dan terlihat turun dari suatu awan jenis cumulus congestus atau cumulonimbus.

"Kejadian ini tak hanya langka tapi juga termasuk cuaca ekstrem karena menggambarkan badai super sel pada skala ruang yang mikro (puluhan meter)," kata Erma.

Erma menambahkan fenomena waterspout tidak bertahan lama. Bahkan menurutnya, kecil kemungkinan waterspout itu berpindah dari air menuju ke darat.

"Karena dukungan kelembapan atau uap air yang dihasilkan oleh suatu permukaan air cenderung memiliki karakteristik yang khas, maka water spout yang pernah terbentuk di suatu area, memiliki potensi besar dapat terjadi lagi di wilayah tersebut," ujarnya.

Itulah yang membedakannya dengan angin puting beliung. Menurutnya, puting beliung memiliki kecepatan angin dan dampak kerusakan pada kisaran di bawah skala F-2 (Skala Fujita-2, menurut ahli tornado keturunan Jepang Tetsuya Fujita dari Universitas Chicago).

"Dengan demikian, puting beliung memiliki lintasan kurang dari satu kilometer dengan durasi hidup di bawah satu jam," ujarnya.

Fenomena angin puting beliung muncul di Waduk Gajah Mungkur pada Rabu (20/1) sore waktu setempat. Fenomena tersebut muncul dengan ukuran cukup besar dan berdurasi cukup lama.

Sebelumnya, pada Selasa (19/1), viral juga fenomena serupa, namun kali ini fenomena angin puting beliung di Bali. Warga sekitar Kuta Utara, Badung, Bali dikejutkan terjangan puting beliung dari tengah Pantai Pererenan dan bergerak ke arah timur hingga menghancurkan belaan bangsal milik nelayan di pantai nelayan Canggu.



Simak Video "Detik-detik Puting Beliung Rusak Puluhan Rumah Warga di Lumajang"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)