Usai Lockdown, Udara di China Balik Lagi Diselimuti Polusi

Usai Lockdown, Udara di China Balik Lagi Diselimuti Polusi

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 07 Jun 2020 10:01 WIB
Belum lama ini, pemerintah China mengeluarkan peringatan merah terhadap polusi udara yang sangat tinggi.
Usai Lockdown, Udara di China Balik Lagi Diselimuti Polusi. Foto: REUTERS
Jakarta -

Polusi udara di China kembali ke level ketika masa sebelum lockdown saat pandemi. Para ilmuwan menyebutkan, negara-negara lain di Eropa pun segera menyusul.

Dikutip dari The Guardian, polusi udara menyebabkan setidaknya 8 juta kematian dini dalam setahun. Karenanya, langit dan udara yang tampak lebih bersih selama masa lockdown menjadi hikmah di balik pandemi COVID-19.

Para ahli menyerukan agar kualitas udara seperti ini bisa tetap dipertahankan ketika orang-orang sudah mulai beraktivitas normal nantinya, namun sepertinya mustahil.

Data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (Crea) menunjukkan, konsentrasi partikel halus (PM2.5) dan nitrogen dioksida (NO2) di seluruh China saat ini berada pada tingkat yang sama dengan satu tahun sebelumnya.

Saat negara tersebut merespons virus Corona dengan kebijakan lockdown yang menghentikan berbagai kegiatan pada awal Maret, tingkat NO2 turun 38% dari 2019 dan tingkat PM2.5 turun 34%.

polusi udara

"Kembali meningkatnya polusi udara dan tingkat konsumsi batu bara di seluruh China dengan cepat adalah peringatan dini tentang seperti apa peningkatan polusi yang dipimpin oleh industri," kata peneliti utama Crea, Lauri Myllyvirta.

"Industri yang sangat berpolusi lebih cepat pulih dari krisis dibandingkan bidang ekonomi lainnya. Maka sangat penting bagi para pembuat kebijakan untuk memprioritaskan energi bersih," sambungnya.

Di Wuhan, kota yang menjadi pusat epidemi China, tingkat NO2 sekarang hanya 14% lebih rendah dari tahun lalu setelah sempat turun hampir setengahnya. Sedangkan Shanghai yang dikenal sebagai kota denga tingkat polusi udara tinggi, level terbaru polusinya 9% lebih tinggi dari tahun lalu.

Apa yang terjadi di China diprediksi segera menyusul ke negara-negara lain dan akhirnya seluruh dunia, tak lama setelah kebijakan lockdown dan social distancing dilonggarkan.

Studi ini juga melihat hal serupa terjadi di sejumlah negara Eropa. Kota-kota di negara Eropa mengalami penurunan tingkat polusi sangat signifikan selama masa penyebaran virus.

polusi udara

Data dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (Cams), yang meneliti polusi di 50 kota di Eropa, menunjukkan bahwa 42 kota di antaranya mencatat tingkat NO2 di bawah rata-rata pada bulan Maret.

London dan Paris mengalami pengurangan NO2 hingga 30%. Untuk diketahui, NO2 adalah polutan yang sebagian besar dihasilkan oleh kendaraan diesel.

"Kami memperkirakan polusi akan kembali meningkat, tetapi kami belum bisa menunjukkannya," kata Director of Cams Vincent-Henri Peuch.

Dia mencatat bahwa data Cams sejauh ini baru menunjukkan tingkat polusi udara rata-rata di seluruh kota.

"Efek pengurangan aktivitas lalu lintas akan lebih tinggi, hingga 70% atau 80% mengurangi pengurangan polusi di beberapa tempat," katanya.

Menurut para peneliti, cukup rumit membedakan perubahan polusi yang disebabkan oleh situasi lockdown dan faktor-faktor lain seperti cuaca dan interaksi bahan kimia dari polutan.

Musim semi adalah musim yang paling berpolusi di Eropa barat pada tahun-tahun normal, karena dimulainya siklus pertanian yang menyebabkan emisi amonia yang kemudian membentuk partikel di udara seluruh kota.

Tim Cams saat ini bekerja sama dengan Barcelona Supercomputing Centre untuk menguraikan faktor-faktor tersebut dan menghasilkan perkiraan yang lebih kuat tentang efek pandemi virus corona.

Peuch menyebutkan, kondisi kualitas udara di berbagai kota di Eropa masih harus diteliti. "Kami tidak tahu bagaimana perilaku orang akan berubah, misalnya menghindari transportasi umum dan jadi lebih mengandalkan kendaraan sendiri, atau mereka akan terus bekerja dari rumah," jelasnya.

Berbagai studi mengenai polusi udara sendiri telah dikaitkan dengan penyakit jantung, paru-paru, dan banyak kondisi lainnya termasuk diabetes, dan penurunan kecerdasan. Bahkan polusi udara kemungkinan mempengaruhi hampir setiap organ dalam tubuh.

Diketahui pula semakin banyak bukti keterkaitan antara paparan udara kotor dengan peningkatan risiko kematian akibat COVID-19. Hal ini mendorong seruan untuk menjaga polusi udara tetap rendah guna membantu menghindari bahaya gelombang kedua infeksi COVID-19.

zona hitam


Simak Video "Awas! Mobil Ber-AC Belum Tentu Aman dari Polusi"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)