Studi: Polusi Udara Pengaruhi Tingkat Kematian COVID-19

Studi: Polusi Udara Pengaruhi Tingkat Kematian COVID-19

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 22 Apr 2020 19:49 WIB
ilustrasi polusi udara
Studi: Polusi Udara Pengaruhi Tingkat Kematian COVID-19. (Foto: ThinkStock)
Jakarta -

Studi terbaru mengungkapkan, wilayah dan kota-kota dengan nitrogen dioksida (NO2) tinggi memiliki tingkat kematian virus corona lebih besar secara signifikan dibandingkan daerah lain yang udaranya lebih bersih.

Dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science of the Total Environment, studi yang dilakukan tim peneliti dari Martin Luther University Halle-Wittenberg (MLU), Jerman ini menjadi makalah terbaru yang menghubungkan antara paparan yang lama terhadap polusi udara dengan kematian akibat virus Corona.

Dr Yaron Ogen, salah satu ilmuwan di tim penelitian ini menyebutkan, studi mereka menganalisis data satelit tentang polusi udara dan arus udara di Italia, Prancis, Spanyol dan Jerman dengan kematian yang dikonfirmasi terkait dengan COVID-19.

Tercatat ada 4.443 kematian di negara-negara ini karena COVID-19 (per 19 Maret 2020). Dan menurut penelitian, 83% dari semua kematian terjadi di daerah di mana tingkat NO2 tinggi, 15,5% terjadi daerah yang NO2-nya tingkat menengah, dan hanya 1,5% dari semua kematian terjadi di daerah di mana konsentrasi NO2 maksimum dianggap rendah.

Untuk diketahui, NO2 merupakan polutan udara yang merusak saluran pernapasan manusia. Selama bertahun-tahun, senyawa tersebut menyebabkan banyak jenis penyakit pernapasan dan kardiovaskular pada manusia.

"Karena virus corona juga mempengaruhi saluran pernapasan, masuk akal untuk mengasumsikan bahwa mungkin ada korelasi antara polusi udara dan jumlah kematian akibat COVID-19," kata Dr Ogen seperti dikutip dari The Weather Channel.

Dr Ogen dan timnya mempelajari level NO2 yang diukur oleh satelit Sentinel 5P dari European Space Agency (ESA), yang secara terus-menerus memantau polusi udara di Bumi. Berdasarkan data ini, ia menghasilkan tinjauan global untuk daerah dengan jumlah polusi NO2 yang tinggi dan berkepanjangan.

Data ini kemudian digabungkan dengan data dari badan cuaca AS NOAA pada aliran udara vertikal, karena para peneliti percaya bahwa jika udara bergerak, polutan di dekat tanah juga lebih disebarluaskan.

Namun, jika udara cenderung tetap berada di dekat tanah, hal ini juga akan berlaku untuk polutan di udara, yang kemudian lebih mungkin dihirup manusia dalam jumlah lebih besar dan dengan demikian menyebabkan masalah kesehatan.

Dengan menggunakan data ini, peneliti dapat mengidentifikasi hotspot di seluruh dunia dengan tingkat polusi udara yang tinggi dan tingkat pergerakan udara yang rendah secara bersamaan.

Dr Ogen kemudian membandingkan ini dengan data kematian terkait dengan COVID-19, dengan secara khusus menganalisis data dari Italia, Prancis, Spanyol dan Jerman.

Ahli geologi ini menduga, paparan polusi udara secara terus-menerus di sebuah daerah dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih buruk secara keseluruhan pada orang-orang yang tinggal di sana. Hal ini membuat mereka rentan terhadap virus.

Namun Dr Ogen memberikan catatan bahwa penelitiannya ini masih merupakan indikasi awal bahwa mungkin ada korelasi antara tingkat polusi udara, pergerakan udara, dan tingkat keparahan terjadinya wabah virus Corona.

"Korelasi ini harus diteliti lebih lanjut untuk daerah lain dan dimasukkan ke dalam konteks yang lebih luas," ujarnya.

Sebelumnya, ada juga tim ilmuwan dari Harvard University yang menyebutkan bahwa adanya peningkatan kecil terhadap paparan partikel halus (PM2.5) dalam jangka panjang bisa berkontribusi pada tingkat kematian virus corona.

Seperti penelitian Dr Ogen, para ilmuwan Harvard meyakini bahwa paparan polusi udara merusak jantung dan paru-paru, sehingga hal itu meningkatkan kerentanan terpapar virus corona lebih parah.



Simak Video "38 Daerah Berubah Status Jadi Zona Hijau, Mana Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)