Kamis, 26 Des 2019 16:11 WIB

Gerhana Matahari Cincin, Begini Penjelasannya dalam Al Qur'an dan Hadits

Rosmha Widiyani - detikInet
Foto: BMKG/Gerhana Matahari Cincin, Begini Penjelasannya dalam Al Qur'an dan Hadits
Jakarta - Jauh sebelum enam ilmuwan terkemuka menemukan teori tata surya, Al Quran dan Hadist sudah lebih dulu menjelaskan soal kedudukan bumi, bulan serta matahari dalam garis edarnya masing-masing. Soal gerhana matahari cincin -- yang salah satunya baru usai pada Kamis, 26 Desember 2019 -- juga pernah disinggung Rasulullah SAW pada 27 Januari 632 Masehi atau menjelang awal Zulkaidah tahun 10 Hijriyah.

Terkait kedudukan matahari dan bulan dalam sistem tata surya misalnya, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan dalam surah Ar Rahman ayat 5

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Arab-latin: Asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān

Artinya: Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.

Dalam peredaran bulan, bumi dan matahari tersebut kemudian terjadilah siang dan malam. Seperti dijelaskan dalam Surat Al Fushshilat ayat 37 berikut ini:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Arab-Latin: Wa min āyātihil-lailu wan-nahāru wasy-syamsu wal-qamar, lā tasjudụ lisy-syamsi wa lā lil-qamari wasjudụ lillāhillażī khalaqahunna ing kuntum iyyāhu ta'budụn

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sujud (sembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.


Fenomena terjadinya siang dan malam tersebut merupakan suatu tanda kebesaran Allah SWT sebagai pencipta langit dan bumi. Terjadinya siang dan malam memberi pelajaran terkait kebesaran Allah SWT yang dibuktikan lewat sains, seperti dalam surat Ali Imran ayat 190-191 yang artinya:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka."

Gerhana Matahari Cincin

Selain terjadinya siang dan malam, kebesaran Allah SWT juga dibuktikan melalui terjadinya gerhana matahari cincin. Di masa Rasulullah SAW, persisnya pada 27 Januari 632 Masehi atau menjelang awal Zulkaidah tahun 10 Hijriyah juga pernah terjadi gerhana matahari cincin.

Peristiwa itu terjadi hanya beberapa saat setelah pemakaman Ibrahim, putra Rasulullah. Masyarakat Madinah kala itu mengira gerhana matahari cincin terjadi sebagai akibat dari wafatnya putra Rasulullah.

Maka kemudian Rasulullah meluruskan anggapan tersebut. Gerhana matahari cincin terjadi karena kuasa Allah SWT, bukan karena ada kematian, kelahiran atau dimakan makhluk tertentu. Dalam hadits Abu Burdah dari Abu Musa Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:

"Gerhana ini adalah tanda-tanda dari Allah, bukan disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini terjadi supaya Allah menakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan-Nya."


Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Thomas Djamaluddin mengatakan gerhana adalah tanda kebesaran Allah SWT yang menciptakan matahari, bumi, bulan, dan seisi bumi serta berbagai sistem di dalamnya.

"Gerhana memberi banyak bukti ada yang mengatur alam ini. Allah SWT yang mengatur peredaran benda-benda langit sehingga bisa digunakan untuk membuat perkiraan. Lewat sains yang menjelaskan seputar gerhana, kita juga bisa belajar lebih dalam berbagai ayat dalam Al-Qur'an," kata Thomas Djamaluddin.

Peristiwa gerhana matahari cincin adalah bagian dari keteraturan sistem matahari-bulan-bumi. Tiap benda langit termasuk matahari, bulan, dan bumi sebetulnya punya orbit edarnya. Dengan kondisi tersebut, bagaimana bisa terjadi gerhana? Apakah pertemuan matahari, bulan, dan bumi akan terulang dalam durasi yang sama?

Hal ini berkaitan dengan bidang edar bulan dan bumi terhadap matahari (ekliptika). Ada saatnya orbit bulan dekat dengan ekliptika dan terjadi bersamaan dengan bulan baru. Secara teori bisa dihitung namun tidak selalu jadi perhatian dan bisa disaksikan masyarakat umum. Gerhana matahari cincin menjadi bagian perkembangan ilmu hisab untuk memperkirakan peredaran bulan, sehingga awal bulan qamariyah bisa dihitung lebih akurat.

Adanya bidang edar (orbit) juga menjawab tidak adanya kemungkinan benda langit tabrakan atau mendekat secara fisik. Perjumpaan bulan dan matahari saat gerhana matahari cincin menjadi penjelasan untuk peristiwa yang terlihat mata. Saat itu matahari tampak terhalang bulan yang berada di antara matahari dan bumi. Akibatnya sinar matahari tidak sampai bumi untuk sementara.

Gerhana Matahari Cincin, Begini Penjelasannya dalam Al Qur'an dan Hadits


Simak Video "Penampakan Gerhana Matahari Cincin di Berbagai Penjuru Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(row/erd)