Kisah Pilot AS Berjumpa UFO yang Berkecepatan Hipersonik

Kisah Pilot AS Berjumpa UFO yang Berkecepatan Hipersonik

ADVERTISEMENT

Kisah Pilot AS Berjumpa UFO yang Berkecepatan Hipersonik

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Rabu, 29 Mei 2019 17:22 WIB
Tangkapan gambar penampakan UFO oleh pilot Angkatan Laut Amerika Serikat pada 2015. Foto: Screencapture Video jet F/A-18 AS diduga UFO
Jakarta - Seorang pilot untuk Angkatan Laut Amerika Serikat bernama Ryan Graves mengaku bahwa dirinya telah melihat UFO di langit ketika sedang di balik kemudi pesawatnya. Kejadian itu disebutnya terjadi di Pesisir Timur Amerika Serikat.

Deskripsinya mengenai UFO itu pun cukup mengerikan. Tidak terdeteksi adanya mesin. Tak ada jejak infrared yang keluar dari saluran pembuangannya.




Walau begitu, kendaraan tersebut dapat mencapai ketinggian 30 ribu kaki (9 km). Lebih lagi, ia pun sanggup berada pada kecepatan hipersonik, atau di atas Mach 5 (6174 km/jam).

"Mempertahankan sebuah pesawat di udara membutuhkan energi yang terbilang besar. Dengan kecepatan yang kami amati, 12 jam di udara sudah 11 jam lebih panjang dari yang kami perkirakan," ujarnya, sebagaimana detikINET kutip dari The New York Times, Rabu (29/5/2019).

Penampakan itu disebut Graves dilihatnya pada 2014 dan 2015. Ia bersama empat pilot lain mengaku saat itu sedang melakukan latihan manuver dari Virginia ke Florida. Pada akhir 2014, seorang pilot bahkan disebut hampir mengalami tabrakan dengan salah satu objek.

Graves pun sudah melaporkan temuannya itu ke Pentagon dan Kongres. Sampai saat ini, tidak ada satu pun dari pihak Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang mengatakan bahwa itu merupakan objek dari luar angkasa.

Meski begitu, objek yang ditemukan Graves dkk turut menarik perhatian Angkatan Laut Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari diterbitkannya arahan dalam melaporkan penglihatan terhadap apa yang jamak disebut UFO.

"Ada sejumlah laporan yang berbeda-beda. Beberapa kasus bisa jadi merupakan drone komersial, tapi dalam kasus lain kami tidak tahu siapa yang melakukan ini, kami tidak memiliki data yang cukup untuk melacaknya," ujar Joseph Gradisher, juru bicara Angkatan Laut Amerika Serikat.

"Jadi maksud dari pesan yang kami sampaikan kepada pasukan adalah untuk mengikuti arahan terbaru dalam prosedur laporan terhadap dugaan gangguan kepada pesawat kami,: katanya menambahkan.




Kalangan akademisi pun turut buka suara mengenai temuan dari Graves. Leon Golub, astrofisikawan senior dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan kemungkinan itu adalah benda luar angkasa lebih kecil jika dibandingkan dengan hipotesis lain yang peluangnya juga tidak besar, namun punya penjelasan logis.

"Ada banyak kemungkinan, bugs pada konde untuk sistem layar dan pencitraan, efek dan refleksi atmosfer, hingga neuron yang terlalu menerima banyak masukan selama penerbangan berkecepatan tinggi," tuturnya.


(mon/krs)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT