Jumat, 26 Apr 2019 20:38 WIB

Jentikan Thanos, Wabah Hitam, dan Kepunahan Dinosaurus

Fino Yurio Kristo - detikInet
Halaman 1 dari 2
Thanos. Foto: dok Twitter Thanos. Foto: dok Twitter
Jakarta - Thanos melenyapkan separuh kehidupan alam semesta secara acak setelah mengoleksi enam Infinity Stone. Menurut Kevin Feige, President Marvel Studios sekaligus produser Avengers: Endgame, jentikan jari Thanos berlaku untuk seluruh makhluk hidup, baik manusia, hewan, tanaman, hingga bakteri.

Itu adalah cerita di film Avengers. Di dunia nyata, juga ada beberapa peristiwa yang pernah sangat menghancurkan populasi makhluk hidup.

Salah satunya adalah wabah hitam atau black death, penyakit yang pernah sangat mematikan khususnya di benua Eropa. Diestimasi 75 sampai 200 juta manusia tewas karena wabah yang memuncak di Eropa pada tahun 1347 sampai 1351 ini.

Seperti Thanos melenyapkan separuh populasi, Black Death diestimasi mematikan 30% sampai 60% warga Eropa. Saking dahsyatnya, populasi dunia yang tadinya sekitar 450 juta, turun ke level 350-357 juta di abad ke-14.




Butuh waktu sampai 200 tahun sampai populasi dunia pulih ke level sebelumnya. Wabah hitam pun masih muncul tenggelam di Eropa sampai abad ke 19.

Sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa virus pes yang disebabkan bakteri Yersinia pestis dan disebarkan oleh lalat dengan bantuan hewan seperti tikus rumah (Rattus rattus) adalah penyebab wabah walaupun ada juga kalangan yang menyangsikan teori ini.

Jentikan Thanos, Wabah Hitam dan Kepunahan DinosaurusIlustrasi penguburan korban Black Death. Foto: Getty Images

Sebuah tim dari universitas di Oslo dan Ferrara menyimpulkan Wabah Hitam bisa 'dianggap sebagian besar berasal dari kutu manusia dan kutu yang ada dalam tubuh' Penelitian yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science itu menggunakan catatan atas pola dan skala wabah itu.

"Kami memiliki data kematian yang akurat dari sembilan kota di Eropa akibat wabah tersebut," jelas Prof Nils Stenseth, dari Universitas Oslo, kepada BBC News. "Jadi kita bisa membangun model dari dinamika penyakit di (sana)."

Ia dan rekan-rekannya kemudian mensimulasikan wabah penyakit di masing-masing kota tersebut dan menciptakan tiga model wabah yang disebabkan tikus, transmisi udara dan kutu yang ada di tubuh manusia dan pakaiannya.

Di tujuh dari sembilan kota yang diteliti tersebut, ternyata 'model parasit manusia' menunjukkan tingkat kecocokan tinggi dengan pola wabah. Penemuan itu mencerminkan pula seberapa cepat penyebarannya dan berapa banyak pula orang yang terkena dampaknya.

"Kesimpulannya sangat jelas," klaim Prof Stenseth. "Model kutu cocok sekali. Tidak mungkin menyebar secepat itu jika ditularkan oleh tikus,"

Halaman selanjutnya: Misteri Punahnya Dinosaurus

(fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed