Selasa, 16 Okt 2018 08:46 WIB

Teknologi Crispr dan Manusia Super Ramalan Stephen Hawking

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Stephen Hawking. Foto: Getty Images Stephen Hawking. Foto: Getty Images
Jakarta - Selain diketahui akrab dengan ilmu fisika dan astronomi, Stephen Hawking juga dikenal memiliki visi yang unik dalam melihat masa depan. Hal tersebut tampak dari publikasi terbarunya yang ditulisnya sebelum meninggal dunia pada Maret lalu.

Ilmuwan legendaris tersebut meramalkan munculnya semacam ras manusia super. Penyuntingan DNA jadi salah satu jalan yang bisa mengantarkan ke masa depan seperti itu

Kemunculan ras manusia super bisa dibilang tampak masih jauh dari angan. Walau begitu, tidak demikian dengan teknologi yang memungkinkan perombakan DNA pada manusia.

Adalah Crispr-Cas9, atau kerap disebut dengan Crispr saja, sistem penyuntingan gen yang dimaksud. Crispr sendiri memiliki kepanjangan Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats.



Teknik tersebut sudah ditemukan sejak enam tahun Teknologi ini yang memungkinakan ilmuwan untuk mengubah, menghapus, hingga menyisipkan gen spesifik dalam mengatasi keabnormalan pada sebuah gen.

Sejumlah negara di dunia mulai dari Amerika Serikat, Inggris, hingga China sudah tak asing lagi dengan Crispr. Baik dokter maupun ilmuwan sudah menaruh perhatian terhadap teknologi ini.

Pada awal tahun, sejumlah dokter dari University of Pennsylvania Health System (Penn Medicine) diberikan kepercayaan untuk melakukan uji coba CRISPR terhadap manusia. Hal tersebut diklaim jadi yang pertama dilakukan di Negeri Paman Sam.

Edward Stadtmauer, pemimpiun penelitian tersebut, bersama koleganya menggunakan CRISPR untuk menyunting sel T, yang berperan besar dalam sistem imun, dari para partisipan. Mereka akan mengekstrak sel darah dari para pasien agar dapat menyuntingnya di luar tubuh, sebuah teknik yang dinamakan terapi gen ex vivo.

Lalu, para dokter akan menghapus dua gen spesifik dari sel T, yaitu PD-1 yang biasa dieksploitasi oleh sel kanker untuk menghentikan aktivitas sistem imun, serta sebuah reseptor pendeteksi bahaya seperti kuman. Nantinya, mereka akan menyusupkan sebuah reseptor baru yang sudah didesain untuk sel T untuk dapat melawan sel kanker secara langsung.

Tujuannya adalah untuk mengubah sel T menjadi lebih baik dalam melawan kanker sebelum memasukannya kembali ke dalam aliran darah pasien. Sebanyak 18 pasien yang menderita tiga tipe kanker, yaitu multiple myeloma, sarkoma, dan melanoma, akan dilibatkan dalam uji coba tersebut yang rencananya akan selesai pada Januari 2033.



Kemudian, Crispr juga dilibatkan dalam sebuah penelitian yang bertujuan untuk menciptakan otak manusia purba dan menanamkannya ke robot. Hal tersebut dilakukan oleh para ahli genetik dari University of Carolina, San Diego (UCSD) untuk 'melahirkan kembali' manusia purba ke Bumi.

Lain halnya dengan yang terjadi di Inggris. Great Ormond Street, rumah sakit untuk anak di London, bahkan sudah menggunakannya untuk melakukan perawatan terhadap pasien leukemia.

Yang terbaru, sebuah tim peneliti dari China berhasil 'menciptakan' tikus dalam kondisi sehat yang berasal dari orang tua yang sama-sama berjenis kelamin perempuan. Mereka sebenarnya juga bisa 'membuat' tikus yang berasal dari dua orang ayah, namun ia hanya mampu bertahan beberapa hari saja.

Didukung Bill Gates

Teknologi Crispr juga sudah mendapat perhatian dari Bill Gates. Pendiri Microsoft tersebut sempat mengatakan teknologi rekayasa genetik seperti CRISPR dan gene drive harus terus dieksplorasi.

Sekadar informasi, gene drive dapat menguah DNA secara bertahap lewat beberapa generasi. Proses yang dijalaninya diklaim jauh lebih cepat dari proses biologi alami.

"Saya sangat bersemangat mengetahui potensi gene drive. Saya pikir ini adalah temuan yang harus didukung," katanya.

Hal tersebut merujuk pada usahanya dalam melawan malaria. Beberapa peneliti di dunia diketahui memanfaatkan teknologi rekayasa genetik untuk menciptakan nyamuk mutan dalam menangkal penyakit tersebut.

Pada konteks melawan penyakit, modifikasi genetik dapat membuat nyamuk menjadi mandul sehingga mengurangi populasinya. Selain itu, hal tersebut juga bisa membuat nyamuk tidak mampu lagi membawa parasit malaria.

Efek Samping Penyalahgunaan Crispr

Meski terbukti memiliki manfaat, tapi perhatian tetap mengarah ke Crispr soal risiko penggunaannya. Tidak menutup kemungkinan jika teknik tersebut memiliki efek samping nantinya.

"Ketakutan yang muncul adalah penggunaan teknik ini bisa mengarah ke penciptaan manusia dengan gen yang sudah dimodifikasi. Akan ada produsen bayi yang memungkinkan para orang tua untuk memilih spesifikasi dari bayinya," ungkap National Public Radio (NPR) pada 2016 lalu.

Ujaran media yang berbasis di Washington D.C., Amerika Serikat tersebut merujuk pada perbuatan seorang ilmuwan asal Swedia soal penyuntingan gen. Ia memanfaatkan teknik tersebut untuk mengubah embrio manusia.

"Orang tua bisa saja memutuskan untuk menginginkan anaknya menjadi lebih tinggi, kuat, cerdas, atau hal-hal semacam itu," pungkasnya.



Membaca kutipan tersebut, sudah bisa terbayang apa yang akan terjadi di masa depan jika teknologi Crispr disalah gunakan. Bukan menutup kemungkinan manusia dapat menjadi mutan di masa depan.

Meski tidak akan menjadi sekuat Wolverine (mudah-mudahan), perubahan DNA dalam proses mutasi tersebut dapat membuat manusia 'kebal' terhadap berbagai penyakit. Dan hal tersebut salah satunya menjadi mungkin terjadi dengan alat penyunting gen seperti Crispr.



Tonton juga 'Zero G, Masa Depan Manusia dan Keinginan Stephen Hawking':

[Gambas:Video 20detik]

(mon/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed