Rabu, 07 Feb 2018 18:55 WIB

Totalitas Elon Musk, Tak Punya Meja dan Menginap di Pabrik

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Elon Musk Foto: Elon Musk
Jakarta - Sosok Elon Musk menjadi perhatian dunia saat ini karena ia baru saja berhasil meluncurkan roket terkuat yang pernah dibuat bernama Falcon Heavy. Bagaimana sosok Musk saat ia bekerja menangani berbagai perusahaan?

Musk tak hanya memimpin SpaceX saja, namun ia juga menjadi nahkoda di perusahaan Tesla, The Boring Company, SolarCity, Zip2, dan pendiri X.com yang merger dengan Confinity yang akhirnya diberi nama PayPal.

Dengan mengurusi seabrek pekerjaan tersebut, jelas membuat Musk memiliki rutinitas agenda padat di setiap harinya. Pria berumur 46 tahun ini mengaku kalau ia tidak memiliki meja di kantornya sendiri.



"Saya selalu memindahkan meja saya ke mana saja, saya sebenarnya tidak mempunyai meja kerja, saya pindah kemanapun yang punya masalah besar, ya di Tesla," ujar Musk dikutip detikINET dari Business Insider, Rabu (7/2/2018).

Bahkan tidak sampai di situ, Musk juga harus sering menginap di Gigafactory, sebuah pabrik yang dikembangkan oleh perusahaannya. Kondisi tersebut, ia lakukan ketika masalah muncul dalam produksi mobil Model 3.

"Saya benar-benar percaya bahwa seseorang harus memimpin dari garis depan dan karena itulah saya di sini," ucapnya.



Berkat kerja keras yang dikerahkan oleh Musk, Falcon Heavy proyek roket terkuat berhasil meluncur dari Kennedy Space Center, Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

Sebagaimana disebutkan oleh Musk, jika Falcon Heavy bisa meluncur ke angkasa, maka hal tersebut akan mengubah peta persaingan para penyedia pesawat antariksa dalam berlomba untuk mengejar kontrak dari NASA, lembaga kemiliteran, hingga berbagai perusahaan.

Satu aspek yang menjadikan SpaceX menjadi yang terdepan dalam industri ini adalah harga tiap satu kali peluncuran yang murah dari Falcon Heavy, dengan kemampuannya yang bisa digunakan kembali.

Untuk sekali meluncur, Falcon Heavy membutuhkan biaya USD 90 juta. Jika dibandingkan, Delta IV Heavy, roket terkuat setelahnya, yang dioperasikan oleh Launch Alliance memakan biaya USD 435 juta untuk itu.

Ditambah, Falcon Heavy memiliki kekuatan dua kali lebih besar dari pesaing terdekatnya tersebut dalam urusan kapasitas muatan yang mampu dibawa.

"Jika kami berhasil, maka ini akan menjadi 'akhir' dari para operator roket muatan besar lain," ujar Elon.

"Bayangkan satu perusahaan memiliki pesawat antariksa yang dapat digunakan kembali dan sisanya hanya mempunyai roket sekali pakai. Kedengaran gila memang, namun begitulah bisnis di industri ini bekerja," tuturnya menambahkan. (agt/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed