BERITA TERBARU
Rabu, 06 Des 2017 13:35 WIB

Inilah Pekerjaan yang Gajinya Tembus Rp 13 Miliar!

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Iustrasi. Foto: Gettyimages Iustrasi. Foto: Gettyimages
Jakarta - Di tengah pertumbuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat, apakah hal tersebut dapat diimbangi dengan sumber daya manusia yang memadai?

Laporan 2017 Global AI Talent White Paper dari Tencent, raksasa teknologi asal China, mengemukakan bahwa sektor pengembangan kecerdasan buatan membutuhkan talenta dalam jumlah yang sangat besar.

Studi yang dilakukan Tencent Research Institute tersebut menunjukkan bahwa hanya terdapat 300 ribu praktisi dan peneliti kecerdasan buatan di seluruh dunia. Padahal, industri menuntut terdapat jutaan orang yang bekerja di posisi tersebut, seperti dilansir detikINET dari The Verge pada Rabu (6/12/2017).

Jika dirinci, hanya 2/3 dari angka tersebut yang sudah mendapatkan posisi di berbagai industri, tidak hanya teknologi. Sedangkan 100 ribu sisanya masih menjalani proses belajar di berbagai institusi pendidikan.

Meskipun jumlah orang yang mempelajari hal-hal mengenai mesin dan kecerdasan buatan terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir, namun masih terdapat beberapa gangguan yang membuat mereka sulit menyelesaikan pendidikannya.

Bahkan, salah satu laboratorium kecerdasan buatan independen mengungkapkan bahwa hanya ada 10 ribu orang di muka Bumi dengan kemampuan yang dianggap mumpuni untuk mengeksekusi proyek baru secara serius.

Hal ini pun sejalan dengan keluhan dari para perusahaan teknologi global yang mengaku kesulitan dalam memekerjakan teknisi kecerdasan buatan. Akibatnya, gaji yang dituntut oleh orang-orang yang ingin mengisi posisi tersebut pun terus meroket.

Mereka yang hanya memiliki pengalaman beberapa tahun pun dapat meminta gaji di kisaran USD 300 Ribu (Rp 4 Miliar) hingga USD 500 Ribu tiap tahun (Rp 6,7 Miliar), dengan individu yang paling kompeten dapat meraup USD 1 Juta (Rp 13,5 Miliar) dalam setahun.

Laporan ini juga menyebutkan bahwa negara-negara seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Inggris, Kanada, hingga Israel memiliki kelebihannya masing-masing untuk menjadi pemain kunci dalam mengembangkan talenta di sektor kecerdasan buatan.

Kanada memiliki latar belakang pendidikan yang sangat kuat, sehingga menarik banyak perusahaan besar untuk membangun laboratorium riset di sana. Lalu, Inggris unggul dalam masalah legal dan etika, sedangkan Jepang memimpin untuk urusan robotik.

Dari semua negara tersebut, Amerika Serikat menjadi yang paling banyak dalam menyediakan perguruan tinggi yang memberikan pengajaran mengenai mesin dan subjek-subjek berkaitan lainnya. Ditambah, negeri Paman Sam ini juga memiliki startup terbanyak dibanding negara-negara lain.

Dari 2.600 penyedia pengajaran mengenai mesin dan kecerdasan buatan, lebih dari 1.000 diantaranya berada di Amerika Serikat. Sedangkan China sendiri memiliki hampir 600.

Meskipun begitu, pemerintah China sendiri sudah mengambil langkah serius di sektor ini dengan memasang target ambisius, yaitu menjadi pemimpin teknologi kecerdasan buatan di dunia pada 2030. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed