Teknologi yang dikembangkan oleh profesor visual computing dari Universitas Bradford, Hassan Ugail ini dipakai selama proses wawancara dan pengecekan paspor. Salah satu elemen penting dari sistem mililk Ugail ialah bahwa orang-orang yang berada di bawah pengawasan tidak tahu bahwa mereka sedang dimonitor.
Sistem pendeteksi kebohongan ini dibangun melalui observasi bahwa ketika orang berbohong, aktivitas otak mereka meningkat selagi mereka menyiapkan cerita karangan, demikian seperti dikutip detikINET dari News.com, Selasa (6/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun bisa meningkatkan keamanan, akan tetapi sistem tersebut dikhawatirkan akan memunculkan isu privasi dan penyalahgunaan, seperti untuk memata-matai jadwal pertemuan penting hingga yang remeh temeh seperti dipakai untuk memata-matai pasangan.
Tingkat kesuksesan yang dihasilkan oleh sistem ini sendiri adalah 60-70%. Ugail mengatakan, ia akan bisa meningkatkan keberhasilannya selagi sistemnya diperbaiki.
(sdj/ash)