Alfons Tanujaya Pakar Keamanan Siber Vaksincom mengibaratkan berinternet sebagai tren pembelian sepeda motor. Safety by design adalah keniscayaan dan dibutuhkan oleh setiap user yang membeli atau menggunakan suatu produk, begitu pula produk digital.
"Saya mau memberi perumpamaan, waktu kita beli motor, terus dicuri maling, akhirnya kita tuh beli gembok sendiri. Terus rem cakramnya kita gembok supaya aman. Tetapi kemudian, berkembangan berikutnya motornya yang menyesuaikan diri, jadi keluar motor yang pakai alarm," terang Alfons dalam Konferensi Pers Update Implementasi PP Tunas, Rabu (7/10/2026).
"Nah, itu yang kita katakan dengan safety by design. Sekarang kita beli mobil tanpa seatbelt sudah nggak mau padahal mobilnya tanpa seatbelt ya tetap jalan, tetapi kan sekarang karena produsennya peduli dengan keselamatan dari pembelinya mereka mengutamakan itu," imbuhnya, di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu pula yang diharapkannya selaku pakar keamanan siber dan juga masyarakat luas lainnya. Dalam produk-produk medsos dan produk PSE lainnya, safety by design harus ada juga hadir untuk kepentingan anak.
Salah satu contoh adalah setting default harus selalu dalam opsi 'No'. Dengan demikian, orangtua yang dapat mengontrol anak, meskipun dia sedikit gagap teknologi (gaptek), tetap ada penjagaan ketat sebelum anak akhirnya terpapar dengan konten atau perizinan yang cenderung tidak aman bagi mereka.
Kemudian, Alfons juga mengecam pengaturan di media sosial yang memungkinkan anak menjadi objek dari algoritma mereka.
"Contoh lain adalah di mana mereka doom scrolling. Anak jangan dijadikan sebagai objek algoritma, dijadikan sebagai objek iklan yang kurang pantas atau bisa merusak. Kira-kira itu sih harapan kita, kalau bisa ada safety by design yang bisa menjadi satu tren baru di media sosial di Indonesia," tegasnya.

