Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Saat Internet Mengubah Hidup Warga 3T: Tak Lagi Naik Pohon Cari Sinyal

Saat Internet Mengubah Hidup Warga 3T: Tak Lagi Naik Pohon Cari Sinyal


Agus Tri Haryanto - detikInet

Bakti Komdigi
Infrastruktur telekomunikasi yang dibangun oleh Bakti Komdigi di pelosok RI. Foto: Fyk/detikinet
Jakarta -

Bagi sebagian masyarakat di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), mendapatkan akses internet bukan perkara menyalakan ponsel lalu terhubung ke jaringan. Sebelum infrastruktur telekomunikasi hadir, warga di pelosok ini bahkan harus berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, hingga naik pohon hanya untuk mendapatkan sinyal.

Kondisi tersebut pernah dialami masyarakat di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah kepulauan dengan kondisi geografis berupa pegunungan dan daerah rawan bencana membuat akses komunikasi menjadi tantangan tersendiri.

Kepala Dinas Kominfo Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen mengisahkan, sebelum konektivitas tersedia, masyarakat hingga aparatur pemerintah harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan sinyal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Masyarakat kami atau teman-teman di sekolah, bahkan fasilitas kesehatan, Puskesmas, Pustu, harus menjangkau berkilometer-kilometer jarak untuk mendapatkan tempat bersinyal sehingga bisa mengakses informasi, memberikan laporan, menyampaikan data," ujar Silvester dalam agenda Bakti Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8).

Perjuangan tersebut bahkan terkadang dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Ketika sinyal tidak tersedia di permukaan tanah, warga mencari titik yang lebih tinggi agar telepon seluler dapat menangkap jaringan yang dipancarkan dari infrastruktur telekomunikasi di sekitar.

"Kadang naik pohon karena di bawah tidak ada sinyal, jadi harus naik pohon," kata Silvester.

Kondisi tanpa internet itu tidak hanya menyulitkan komunikasi sehari-hari, terutama di era digitalisasi seperti saat ini. Mulai dari sekolah kesulitan menjalankan aktivitas yang mulai bergeser ke sistem digital, fasilitas kesehatan dan pemerintah daerah menghadapi kendala ketika harus mengirimkan laporan maupun data.

Bakti Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).Pemanfaatan akses internet dari Bakti Komdigi dirasakan berbagai lapisan masyarakat di pelosok Tanah Air. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

Situasi perlahan berubah setelah infrastruktur telekomunikasi masuk ke wilayah tersebut.

Di Flores Timur, pembangunan enam BTS dan sekitar 262 akses internet di fasilitas pemerintahan, desa, sekolah, serta fasilitas kesehatan mulai membuka akses komunikasi bagi masyarakat yang sebelumnya harus mencari sinyal ke lokasi tertentu.

Masuknya akses internet juga mengubah kebutuhan sekolah. Jika sebelumnya persoalan utamanya adalah tidak tersedianya akses internet, kini sekolah mulai membutuhkan jaringan dengan kapasitas yang lebih besar.

Kepala SMAN 1 Titehena Konradus Kudarto mengatakan internet kini menjadi kebutuhan penting karena berbagai aktivitas sekolah telah menggunakan sistem digital, mulai administrasi hingga pelaksanaan asesmen.

Namun, ketika ratusan pengguna mengakses jaringan secara bersamaan, persoalan kapasitas muncul.

"Saya datang dengan harapan besar supaya ada peningkatan kapasitasnya. Sudah ada di lapangan, tapi ada sesuatu yang harus dibenahi supaya itu bisa dimaksimalkan," harapnya.

Konradus mengatakan sekitar 450 siswa ditambah 50 guru dan pengawas dapat menggunakan jaringan secara bersamaan ketika asesmen berlangsung. Artinya, kebutuhan sekolah kini bukan lagi sekadar mendapatkan sinyal, tetapi memastikan koneksi tetap mampu melayani banyak pengguna sekaligus.

Perubahan juga dirasakan masyarakat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Setelah konektivitas tersedia, masyarakat di daerah pegunungan mulai bisa mendapatkan informasi harga komoditas pertanian yang sebelumnya sulit diperoleh.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Parigi Moutong Khairuddin mengatakan akses tersebut membantu masyarakat memperoleh informasi dari tingkat provinsi hingga kecamatan.

"Tapi dengan adanya bantuan dari BAKTI, masyarakat sudah bisa mengakses semua informasi-informasi yang ada, khususnya di provinsi, kabupaten sampai di kecamatan," tuturnya.

Kepala Desa Baina Barat, Yuslan, mengatakan informasi harga membuat petani memiliki pilihan lebih banyak sebelum menjual hasil pertanian. Mereka dapat membandingkan harga dan mencari pembeli yang menawarkan nilai lebih baik.

Pemanfaatan akses internet dari Bakti Komdigi dirasakan berbagai lapisan masyarakat di daerah 3T.Pemanfaatan akses internet dari Bakti Komdigi dirasakan berbagai lapisan masyarakat di daerah 3T. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

Internet juga mulai dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha warga. Produk makanan dan hasil usaha masyarakat dapat dipromosikan melalui media sosial sehingga peluang mendapatkan pembeli dari luar desa semakin terbuka.

"Mudah aksesnya untuk mereka mendapatkan misalnya seperti makanan yang dibuat kemudian dijual, kemudian mereka posting di foto, posting kemudian dikirim di media sosial," kata Yuslan.

Konektivitas yang awalnya dibutuhkan untuk sekadar mendapatkan sinyal berkembang menjadi akses terhadap informasi, layanan publik, pendidikan, hingga peluang ekonomi.

Pengalaman di Flores Timur dan Parigi Moutong menjadi gambaran bagaimana pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah 3T diarahkan untuk menjawab persoalan konektivitas sekaligus membuka peluang pemanfaatan internet.

>>> Halaman berikutnya solusi Bakti Komdigi atasi kesenjangan akses internet di pelosok RI

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengembangkan sejumlah infrastruktur untuk menjangkau wilayah yang sulit dilayani jaringan komersial.

Direktur Utama Bakti Komdigi Fadhilah Mathar mengatakan kehadiran Satelit Republik Indonesia (Satria-1) dengan kapasitas 150 Gbps memungkinkan pemerintah menggabungkan jaringan terestrial dan nonterestrial untuk mempercepat perluasan konektivitas.

"Hal lain yang membuat kami dapat mempercepat penggelaran konektivitas digital itu adalah kehadiran Satria-1. Kehadiran Satria-1 ini membuat kita bisa menggabungkan solusi terestrial dengan solusi non-terestrial pada saat wilayah-wilayah itu memang masih sangat sulit," tutur Fadhilah.

Dirut Bakti Komdigi Fadhilah MatharDirut Bakti Komdigi Fadhilah Mathar Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

Selain Satria-1, Badan Layanan Umum Komdigi ini mengandalkan Palapa Ring sebagai tulang punggung jaringan serat optik di wilayah nonkomersial. Jaringan tersebut membentang sekitar 12.148 kilometer dan melayani 131 titik Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota di wilayah Barat, Tengah, dan Timur Indonesia.

Melalui program Bakti Aksi, akses internet gratis juga telah direalisasikan di lebih dari 31.864 titik layanan publik. Sementara Bakti Sinyal telah membangun BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) di 6.747 titik di wilayah 3T dan perbatasan.

"Bakti telah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi. Sekitar 68% berada di sektor pendidikan, kemudian sektor kesehatan sebesar 5,89% untuk mendukung e-government," ungkap perempuan yang disapa Indah ini.

(agt/rns)






Hide Ads