Selasa, 02 Okt 2018 18:05 WIB

Jurus Sederhana Driver Taksi Online Tangkal Suspend

Adi Fida Rahman - detikInet
Ilustrasi aplikasi driver transportasi online (Foto: Rachman Haryanto/detikcom) Ilustrasi aplikasi driver transportasi online (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta - Belakangan sejumlah driver taksi online kerap berdemo lantaran terkena suspend. Padahal ada cara sederhana agar mitra driver bebas dari masalah tersebut.

Diungkap ketua komunitas driver GrabCar Bestari Citra Bersatu (BCB) 86 Asepudin ada jurus sederhana penangkal suspend. Caranya cukup menerapkan kejujuran.

"Kalau kita menjalankan secara benar dan jujur, nggak mungkin terkena pelanggaran kode etik," ujar pria yang kerap disapa Asep saat ditemui detikINET.




Sejauh ini, suspend yang mendera driver taksi online lantaran adanya order fiktif dan fake GPS. Baik dilakukan oleh mitra sendiri, maupun ulah sindikat.

"Saya suka tanya ke teman yang kena suspend. Saat dilihat history kedapatan adanya order fiktif. Saat dijalankan mendapat komen yang tidak baik," kata Asep.

Pria kelahiran Bandung itu kerap mewanti-wanti anggota komunitasnya jangan menerima order fiktif. Bila terkena, Asep menyarankan di-cancel.

"Jika kena lagi, segera mungkin tinggalkan lokasi tersebut," ujarnya.

Depankan Mediasi

Demo yang dilakukan sejumlah mitra deriver beberapa waktu lalu turut menjadi perhatian Asep. Pengamatannya ada sembilan poin yang dituntut, tapi mengerucut pada pembukaan suspend.

Kendati ikut targabung dalam Aliansi Driver Online (Aliando), Asep sendiri memilih tidak ikut-ikutan berunjuk rasa. Dia pilih mengedepankan cara lain.

"Saya pribadi, melarang nggak, menyuruh pun nggak. Tapi selagi bisa mediasi dan dibicarakan baik-baik dengan pihak aplikator ngapain demo," tutur Asep.

"Selagi ada jalur lain yang memungkinkan kita bicara empat mata dengan pihak aplikator soal keinginan para mitra, ya mending duduk bareng. Karena bila mengadakan demo, maaf, semua mobil masih cicilan kan? Kita punya tanggungan untuk menghidupkan keluarga dan istri. Apakah kepikiran ke sana," ujar pria dua anak itu.

Ditambahkannya lagi, pihak aplikator kerap memberikan amnesti pada driver yang terkena suspend. Sayangnya sejumlah mitra tetap berulah lagi. Bahkan sampai ada yang membuat sindikat, padahal pihak aplikator melarang kecurangan tersebut.

"Kita mawas sendiri aja, introspeksi diri. Kalau pun pihak aplikator membuka (suspend) mungkin akan ada syarat tertentu. Karena ini wewenang manajemen Grab selaku aplikator. Kami selaku mitra akan tetap manut dan ikut dengan aturan yang ada, ataupun SOP akan kami ikuti," tutur Asep.

Sinergi Mitra dan Aplikator

Dua tahun sudah Asep bergabung menjadi mitra driver Grab. Dia lantas berani menilai perusahaan ride sharing yang bermarkas di Singapura ini makin memperhatikan para mitranya.

Diceritakannya kala komunitas BCB86 mengadakan kopi darat (kopdar), perwakilan Grab selalu datang. Tidak hanya setor muka, pertemuan tersebut jadi ajang komunikasi untuk saling memberi masukan antara mitra dan aplikator.

"Soal pembatalan 10 menit, mitra teriak minta 5 menit saat kopdar. Akhirnya dikabulkan menjadi lima menit. Jadi tidak menunggu lama sekarang," kata Asep.

Contoh lainnya soal tombol darurat CCTV. Kini fitur tersebut sudah diaktifkan. Menurut Asep ini betul-betul memperhatikan keselamatan para mitra.

"Karena mengeluarkan teknologi tersebut harganya lumayan. Tapi karena pihak aplikasi memperhatikan keselamatan mitranya, oleh pihak aplikasi ya dikabulkan," ungkap Asep.




Pun begitu Asep berharap sinergi antara mitra driver dan aplikator terus ditingkatkan. Karena ini yang akan mengeratkan kedua belah pihak.

"Satu sama lain harus saling bersinergi. Apa artinya mitra tanpa adanya aplikator? Apa artinya aplikator tanpa adanya mitra? Harus saling bersinergi," pungkasnya.


(rns/krs)