Hal ini mengemuka dalam diskusi terbatas bertajuk 'Konvergensi Media: Peluang dan Tantangan New Media di Indonesia', di restoran Harum Manis, Jakarta, Selasa (9/12/2008).
Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Indonesia, Anindya Bakrie berpendapat, perusahaan media konvensional harus segera berkemas untuk konsolidasi bisnis, mengantisipasi penetrasi Internet dan telepon seluler, jika tidak ingin bisnisnya tergerus zaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peluang memang besar, namun kendala juga tak luput untuk dihindari. Penetrasi internet, misalnya. Menurut praktisi media, Ninok Leksono, tumbuhnya media baru tak luput dari kendala penetrasi internet yang masih rendah dan tarif internet yang masih mahal.
Ninok memperkirakan penetrasi internet di Indonesia cuma berkisar 12% dari total populasi penduduk. "Selain itu, tarif bandwidth internet di Indonesia masih terasa mahal. Tarif bandwidth internet di Indonesia masih empat kali lebih mahal daripada di India," ujarnya.
Selain lebih mahal, tingkat kehandalan jaringan internet di Indonesia juga dinilai belum memadai. Kesulitan mengakses internet sempat dikeluhkan Sutikno Teguh, praktisi dan pengamat telekomunikasi yang sehari-hari berdomisili di Bandung.
Ia menilai, operator penyedia jaringan telekomunikasi dan internet kurang mengantisipasi keluhan pelanggan jika layanan sedang bermasalah. Namun sebaliknya, operator menurutnya seakan tak segan-segan memberi sanksi jika pelanggan telat membayar tagihan.
"BRTI [Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia] seharusnya bertanggungjawab akan masalah yang kerap merugikan konsumen seperti ini. Namun sayangnya, mereka terkesan membiarkan saja," keluhnya.
Β
(rou/ash)