Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kompetisi Bikin Game dari Garena Berakhir, Juaranya Mahasiswa UI

Kompetisi Bikin Game dari Garena Berakhir, Juaranya Mahasiswa UI


Panji Saputro - detikInet

Kompetisi bikin game dari Garena pada tahun ini resmi berakhir. Gelar juaranya diperoleh tim Lelesasa, yang berisi sejumlah mahasiswa dari Universitas Indonesia.
Lelesasa juara Garena Game Jam 3. Foto: Garena Indonesia
Jakarta -

Kompetisi bikin game dari Garena pada tahun ini resmi berakhir. Gelar juaranya diperoleh tim Lelesasa, yang berisi sejumlah mahasiswa dari Universitas Indonesia.

Acara bertajuk Garena Game Jam 3 ini bergulir sejak 6-8 Februari 2026. Di sini, seluruh peserta diminta untuk mengembangkan game hanya dalam waktu 48 jam, dengan tema yang baru ditentukan saat acara dimulai.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, menyampaikan ajang ini bisa menjadi fondasi awal bagi seluruh peserta yang ingin serius berkarir di industri game. Irene juga mengingatkan untuk membangun komunitas, karena menurutnya, mereka yang akan menjadi pemain dan pembeli game tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu benar-benar penting sekali. Jangan mikirin bahwa, oh nanti saya punya modal, mikirin make sure that you construct the games, construct the products, so your product meets the market, what the market wants, to authenticity to whatever that you guys are doing," kata Irene, dari informasi yang diterima detikINET, Rabu (11/2/2026).

Untuk juara Garena Game Jam 3, Lelesasa, berhasil memenangkan kompetisi melalui karyanya berjudul Let Meow Out!. Game terbaru mereka ini berhasil mengalahkan 36 game lainnya dan sukses menjadi yang terbaik.

ADVERTISEMENT

"Dengan waktu pengembangan 48 jam, tantangan terbesar justru datang dari proses menemukan ide yang tepat, yang baru kami tentukan di 36 jam terakhir," kata salah satu anggota tim Lelesasa, Alwie Atta Elfandra.

Menurut Alwie, tema Garena Game Jam tahun ini lebih menantang dibandingkan edisi sebelumnya. Oleh sebab itu, dirinya merasa bahagia, karena dengan tema yang sulit ini, timnya berhasil menjadi jawara.

Alwie menambahkan, partisipasinya di Garena Game Jam menjadi pengalaman berharga, karena tak hanya bersaing, tapi di waktu yang bersamaan juga dapat belajar. Format kompetisi offline dan sistem karantina selama dua hari dinilainya menjadi pengalaman yang berbeda.

"Karena kami bisa saling mencoba karya tim lain dan mendapatkan masukan langsung dari tim Garena, termasuk dari tim Garena global, yang sangat membantu dalam proses pengembangan," tambahnya.

Fakta menariknya ialah Lelesasa pernah mengikuti Garena Game Jam pada 2025. Namun sayangnya mereka belum berhasil meraih juara, karena gelar tersebut disabet oleh Flying Dutchman dari ITB.

Sementara runner-up tahun ini didapatkan oleh Potentially Functional dari Universitas Indonesia, dengan game mereka yang diberi nama Fall Through. Kemudian juara tiganya diraih Barista dari Ibstitut Teknologi Bandung dengan game berjudul Get Flagged!.

Sedangkan penghargaan Most Creative Team diberikan kepada Muhammad Daannii, mahasiswa Politeknik Negeri Malang yang berpartisipasi sebagai solo player dengan karya berjudul No Cat Works as Expected.

"Saya sudah mendaftar Garena Game Jam dari edisi pertama, tapi tidak pernah lolos. Alhamdulillah, di tahun ini berhasil lolos dan malah berhasil dapat gelar Most Creative Team. Benar-benar di luar ekspektasi, apa lagi saya partisipasi sebagai solo developer," ungkap Daannii.




(hps/fyk)






Hide Ads