Rabu, 27 Mar 2019 16:05 WIB

Asosiasi eSport: PUBG Minim Kekerasan, Lebih ke Strategi

Agus Tri Haryanto - detikInet
PUBG Mobile. Foto: Agus Tri Haryanto/inet PUBG Mobile. Foto: Agus Tri Haryanto/inet
Jakarta - President of Indonesia eSports Association Eddy Lim menilai bahwa Playerunknown's Battleground (PUBG) terbilang minim unsur kekerasan di dalamnya. Menurutnya, game ini justru membuat penggunanya untuk mahir dalam mengatur strategi.

"Kalau saya pribadi waktu melihat game PUBG, saat mendarat (dari pesawat) yang di otak kita bukan kekerasannya. Kita lihat peta, daerah mana bisa selamat," kata Eddy Lim di kantor MUI, Jakarta, kemarin.

"Lebih ke arah strategi, kalau dari sisi kekerasannya agak kecil. Otak kita dipenuhi dengan ke streteginya harus bagaimana. Itu pendapat saya," sambungnya.




PUBG belakangan jadi buah bibir masyarakat karena dianggap game yang mengandung kekerasan dan dapat berdampak negatif penggunanya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun melakukan pengkajian terkait kemungkinan mengeluarkan fatwa haram untuk game tersebut.

Pun demikian, kata Eddy, ada sekitar 20-30 juta pengguna yang memainkan game bertema battle royale itu. Bila ada sangkut-pautnya kekerasan dan PUBG maka secara logika harusnya banyak kasus yang terjadi di Indonesia.

"Jika pengaruhnya cukup besar, mungkin akan muncul 10-20 ribu kasus bila ada implikasi yang jelek, gitu kan? Tapi, kita lihat kan dari 20-30 juta pengguna itu implikasinya apa? Mereka tidak belajar, mereka main game terlalu lama, dan itu tidak hanya di game PUBG tapi di semua game," tuturnya.




PUBG sendiri, kreasi dari pengembang PUBG Corporation yang berbasis di Korea Selatan, merupakan game multiplatform bergenre battle royale. Selain di Windows dan Playstation 4, PUBG juga dapat dimainkan di Xbox (dengan Microsoft Studios sebagai publisher) dan PUBG Mobile (menggandeng Tencent Games sebagai publisher) di perangkat smartphone.

Sementara itu, dalam focus group discussion (FGD) yang digelar MUI pusat dengan para ahli terkait di bidang masing-masing, Selasa (26/3) kemarin, MUI tidak membahas PUBG secara khusus melainkan game online secara keseluruhan.

"Pada FGD ini tidak merujuk kepada satu jenis games, tetapi lebih kepada games berkonten negatif dan kemudian dinilai sejauh mana memiliki dampak dan pengaruh kepada user serta masyarakat. Kita merujuk kepada satu produk, tetapi keseluruhan," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh.




(agt/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed