Game Indonesia Pameran di Jerman, Mau Ngapain Sih?

Laporan dari Essen

Game Indonesia Pameran di Jerman, Mau Ngapain Sih?

Isa Akbar - detikInet
Rabu, 24 Okt 2018 14:00 WIB
Ilustrasi. Foto: Gettyimages
Essen, Jerman - Lebih dari 100 ribu orang diprediksi bakal memadati Messe Essen, sebuah arena pameran di kota Essen, Jerman. Mereka hadir untuk pameran Internationale Spieletage SPIEL, ajang unjuk gigi tahunan penerbit board game sedunia yang selalu jadi rujukan.

Lebih dari 1000 eksibitor dari 51 negara di dunia bakal hadir di acara yang digelar di arena dengan luas sekitar 72.000 meter persegi. Salah satu booth adalah dari Indonesia, booth yang mengusung nama Archipelageek itu diadakan oleh Asosiasi Penggiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI) bersama Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

Sebenarnya, apa saja sih yang dilakukan delegasi Indonesia di ajang tersebut?

Pertama, menghadirkan Indonesia di peta dunia. Ini adalah yang ketiga kalinya Indonesia punya kehadiran resmi di SPIEL sejak sebelumnya di 2014 dan 2017. Namun kali ini booth Indonesia bukan hanya lebih besar tapi juga membawa lebih banyak keberagaman game dari dalam negeri.

Ada 24 judul dari 7 penerbit game asal Indonesia yang bakal dipamerkan di ajang yang akrab disebut SPIEL '18 tersebut. Delapan di antaranya menjadi game terpilih di bawah label Indonesia Select karena dianggap mewakili kekayaan konten yang bisa dihasilkan oleh Indonesia.

Delapan game itu adalah Aquatico, Mahapatha, Mahardika, Orang Rimba, Smong, The Festivals, The Art of Batik dan Waroong Wars.

Aquatico, misalnya, jadi menarik karena menampilkan berbagai ekosistem perairan yang ada di Indonesia. Game itu sedikit banyak ikut mengenalkan keanekaragaman hayati Tanah Air pada publik asing.

Game lain yang menarik dari daftar itu adalah Mahardika, sebuah game tentang pahlawan Indonesia dan upaya membebaskan diri dari kolonialisme Belanda. Coba bayangkan bahwa game yang menampilkan Bung Karno, Bung Hatta dan pahlawan lainnya ini digelar dimainkan oleh bangsa Eropa, terutama Belanda. Seru kan?

Kedua, pengembangan bisnis board game di Indonesia. Penerbit game yang hadir ke SPIEL memiliki kesempatan untuk melakukan business deal, termasuk penerbit dari Indonesia bisa bertemu dengan pelaku dari berbagai belahan dunia. Perjanjian bisnis yang bisa terjadi mulai dari penjualan, distribusi hingga lisensi penerbitan game di negara lain.

Salah satu agenda yang direncanakan pada SPIEL '18 kali ini adalah penandatanganan nota kesepahaman antara penerbit game Indonesia, Manikmaya Games, dengan Blue Orange Games, salah satu penerbit board game internasional terbesar yang berasal dari Perancis.

Kesepakatan antara keduanya hasil dari kehadiran Indonesia di SPIEL '17. Bukan tidak mungkin SPIEL '18 ini akan hadir kesepakatan-kesepakatan lainnya antara penerbit Indonesia dengan pihak luar.

Ketiga, ajang berlaga para desainer muda. Banyak desainer board game Indonesia dari kalangan anak muda, atau kerap disebut millennials. Aktivitas bermain board game pun, terutama di Indonesia, kerap jadi pilihan pengisi waktu senggang anak muda.

Desainer game Indonesia yang hadir di SPIEL '18 punya kesempatan untuk bertatap muka dengan desainer kaliber internasional. Ajang ini jadi arena pembelajaran sekaligus membuka mata pada betapa besarnya industri board game dunia dan betapa beragam penggiatnya.

Di ajang ini, para desainer muda Indonesia juga bisa menampilkan dirinya di khalayak internasional. Mereka bisa berbincang dengan penerbit game dari belahan dunia yang berbeda, desainer game internasional dan bahkan awak media dari luar negeri yang mungkin berminat untuk meliput.

Selain tiga hal itu, masih ada banyak kegiatan lain yang jadi bagian dari petualangan delegasi Indonesia di SPIEL '18. Namun satu hal yang pasti, ajang tersebut jadi sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan bagi penggiat industri board game Indonesia.

* Isa Akbar adalah desainer board game dari Manikmaya Games, salah satu dari tujuh penerbit game asal Indonesia yang hadir di ajang pameran Internationale Spieltage SPIEL '18 yang digelar di Essen, Jerman, 25-28 Oktober 2018. (jsn/fyk)