Selasa, 02 Jan 2018 18:50 WIB

Mengulik Persaingan Sengit Xbox vs PlayStation di 2018

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Xbox One X. Foto: istimewa Xbox One X. Foto: istimewa
Jakarta - Status konsol terkuat yang sampai saat ini masih disandang oleh Xbox One X membuat PlayStation (PS) harus memutar otak untuk memenangi persaingan di 2018.

Spesifikasi mumpuni yang dimiliki Xbox One X, seperti CPU 2,3 GHz 8-core, GPU 1,172 GHz 6 teraflop, memori 12 GB GDDR5, serta bandwidth 326 GB per detik, membuat konsol ini seakan berada di level yang berbeda dari pesaing terdekatnya, PS4 Pro.

Hal ini membuat Microsoft selangkah lebih maju dibanding Sony dalam menatap 2018, dengan status Xbox One X sebagai konsol tebaik untuk dibeli, jika melihat dari kemampuannya dalam menuangkan grafik memukau.

Sony sendiri masih belum membeberkan rencana untuk PlayStation, sehingga spekulasi masih terus berputar terkait aksi serangan balik yang akan dilancarkan. Satu hal yang pasti, peningkatan kemampuan PlayStation harus jadi fokus utama Sony untuk mengikis keunggulan performa Xbox yang tampak superior.

Untung bagi Sony, meskipun Xbox tampak sangat kuat, bukan berarti konsol tersebut tidak memiliki kelemahan. Salah satu sektor yang dapat dieksploitasi oleh PS adalah CPU, seperti detikINET lansir dari Forbes, Selasa (2/1/2018).

Xbox One X dan PS4 Pro masing-masing memiliki CPU 8-core AMD, walaupun konsol besutan Microsoft beroperasi lebih cepat sekitar 200 MHz. Hal tersebut sekaligus membuatnya dapat mengolah game apa pun dengan kecepatan 5 fps lebih awal dari PS4 Pro.
PlayStation 4 Pro. Foto: istimewa

Meskipun begitu, Xbox One X tidak cukup kuat untuk memaksimalkan kualitas visual dan frame rate dalam waktu yang bersamaan.

Hal ini terlihat dari mode pilihan untuk memaksimalkan salah satu diantara dua aspek tersebut, seperti dalam beberapa judul game semisal Hitman, Witcher 3, dan Middle Earth: Shadow of War.

Jika Sony dapat menciptakan versi pengembangan PS4 dengan CPU yang mampu mengolah gambar hingga 60 fps serta GPU yang setara Xbox One X, maka predikat konsol terkuat dunia bisa jatuh ke tangannya. Sayang, peningkatan kemampuan CPU dan GPU akan menghasilkan lebih banyak panas, sehingga diperlukan sistem pendingin lebih canggih.

Akibatnya, biaya produksi yang dibutuhkan pun akan melambung, sehingga Sony akan kesulitan untuk mematok harga pada kisaran USD 500 (Rp 6,7 Juta), sesuai banderol dari Xbox One X, agar dapat bersaing di pasaran.

Jika opsi tersebut terasa berat, maka pilihan terbaik dari Sony bisa jadi merilis generasi konsol mereka berikutnya, yaitu PS5, dengan spesifikasi yang membuat para pesaing bergidik ketakutan.

Walaupun tampak menjanjikan, pilihan ini terasa cukup riskan jika Sony harus mengebut proses produksi untuk merilisnya pada masa liburan pertengahan 2018 agar tidak memberikan waktu yang lebih panjang bagi Xbox untuk menggencarkan penjuaan One X miliknya.

Terlebih, ada rumor yang mengatakan bahwa Sony baru akan merilis PS5 pada 2021 mendatang.

Satu hal penting yang perlu diperhatikan Sony dalam meramu konsol generasi berikut miliknya adalah kemampuan kompatibilitas ke belakang (backward compatibility).

Hal tersebut menjadi penting mengingat situasi saat PS4 seri pertama sempat merajai industri konsol lebih banyak dipengaruhi oleh performanya yang memang lebih baik dari Xbox One serta beragamnya konten ekslusif.

Walaupun Sony masih memegang keunggulan pada konten eksklusifnya, kini Microsoft telah mengatasi masalah performa konsolnya. Jika backward compatibility tidak dapat dipertahankan oleh Sony, maka bisa jadi giliran Xbox yang akan menjadi penguasa di industri konsol. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed