Minggu, 12 Jul 2015 13:09 WIB

Pora dan Jalak, Game Edukasi Selamatkan Satwa

Rachmatunisa - detikInet
The Adventures of Jalak The Adventures of Jalak
Jakarta - Perkumpulan peduli satwa Indonesian Society for Animal Welfare (ISAW) punya cara tersendiri untuk mengedukasi masyarakat mengenai perdagangan satwa liar. Menyampaikan misinya, ISAW memanfaatkan game Pora dan Jalak.

Keduanya adalah tokoh satwa fiktif dari karakter game mobile berjudul The Adventures of Jalak dan Pora: Free Cockatoos!. Game ini dikembangkan oleh Miracle Gates Studio dan NED Studio dalam rangka mengikuti tantangan yang ditawarkan oleh Dicoding.com kepada pengembang-pengembang aplikasi perangkat mobile di Indonesia.

Dicoding sendiri adalah startup teknologi lokal yang punya tujuan menjembatani kebutuhan pasar dengan keahlian yang dimiliki oleh para developer.

Sebanyak 2.000 XP (experience points) dialokasikan Dicoding bagi developer yang mampu menyelesaikan tantangan Indonesian Wildlife Game Challenge.

"Dicoding berkomitmen untuk turut menggulirkan perubahan-perubahan positif di masyarakat dengan menjembatani kebutuhan teknologi pasar dan keahlian yang dimiliki oleh komunitas developer kami," ungkap Co-Founder Dicoding Narenda Wicaksono.

"Tantangan yang ditawarkan melalui Indonesian Wildlife Game Challenge bertujuan untuk mendorong kesadaran masyarakat luas mengenai kekejaman di balik perdagangan satwa liar melalui pembuatan game mobile yang menarik dan menyenangkan," sambungnya seperti detikINET kutip dari keterangan email, Minggu (12/7/2015).

The Adventures of Jalak

Ini adalah sebuah game yang menceritakan petualangan seekor Jalak Bali saat berusaha kabur dari para pemburu yang sedang mengangkutnya untuk dijual.

Dengan menyajikan sebuah format permainan endless run, para pemain diharapkan bisa membantu Jalak dan telur-telurnya melarikan diri dari jeratan para pemburu agar dapat kembali ke habitat alaminya.

"Kami berharap melalui permainan ini akan semakin banyak orang yang menyadari betapa kritisnya situasi yang dihadapi oleh Jalak Bali saat ini dengan ancaman-ancaman yang datang dari para pemburu dan penyelundup satwa,” ujar Orlando Nandito, Founder Miracle Gates Studio, startup teknologi dari Denpasar, Bali yang membuat aplikasi ini.

Pora: Free Cockatoos!

Game lainnya yang juga berhasil memenangkan tantangan tersebut berjudul 'Pora: Free Cockatoos!'. Permainan ini menampilkan modus-modus kekejaman dibalik penyelundupan satwa liar.

Dalam episode pertama misalnya, ikan Pora dilengkapi dengan torpedo dan gelembung yang dapat digunakan untuk membebaskan kakatua jambul kuning yang terperangkap dalam botol-botol plastik di pelabuhan.

Game ini rencananya akan terus dikembangkan selama beberapa bulan ke depan untuk menambah jumlah level yang dapat dinikmati para gamers.

"Dengan membantu Pora membebaskan burung-burung dilindungi tersebut, kami berharap orang yang memainkan game ini akan secara bawah sadar memahami bahwa burung itu seharusnya terbang bebas di alam, bukan untuk dikekang dalam sangkar apalagi dijejalkan dalam botol plastik," jelas Jonathan Borisman Tambun CEO sekaligus developer NED Studio asal Sumatera Utara.

"Kami yakin bahwa bersama-sama kita dapat membangun rasa empati generasi muda terhadap makhluk hidup lainnya, salah satunya dengan menampilkan visualisasi penyelamatan satwa dari perburuan dan perdagangan dengan cara yang populer dan menyenangkan," tambahnya.





Pesan Moral

Petualangan seru yang disajikan oleh kedua game mobile tersebut diharapkan dapat menyampaikan tiga pesan penting kepada publik. Pertama, satwa liar saat ini terancam akibat perburuan, penyelundupan, dan perdagangan ilegal.

Kedua, satwa liar bukanlah untuk dikurung atau disakiti. Terakhir, masa depan kelestarian satwa di alam adalah tanggung jawab kita bersama.

"Melalui kedua cerita yang disampaikan dalam format game interaktif audiovisual dengan karakter animasi yang lucu, anak-anak dapat dengan mudah menangkap pesan tentang apa artinya mencintai satwa liar, yaitu mencintai adalah membebaskan dan membiarkan mereka hidup di alam," ujar Direktur Eksekutif ISAW Kinanti Kusumawardani.

"Oleh karena itulah kami bermitra dengan Dicoding.com dan para pemenang Indonesian Wildlife Game Challenge agar bisa terus mengembangkan upaya edukasi animal welfare melalui cara-cara yang kreatif dan inovatif," tambahnya.

Di saat perdagangan satwa kini sedang dihadapkan pada krisis global, berakibat pada peningkatan drastis jumlah satwa tangkapan dari alam untuk diperjualbelikan.

Satwa-satwa tersebut kemudian diselundupkan dengan cara-cara yang tidak layak dan tidak terbayangkan sebelumnya. Akibatnya, 40% dari satwa tersebut mati sebelum mencapai tempat yang dituju.

"Salah satu kunci untuk memberantas perdagangan satwa ilegal adalah dengan menurunkan permintaan melalui pemberdayaan cara-cara kreatif untuk menyadarkan masyarakat tentang kekejaman dibalik jual beli satwa liar dan bagian-bagiannya," tambah Kinanti.

Ditambahkannya ISAW akan mempromosikan kedua mobile game yang sudah tersedia untuk perangkat Android tersebut sebagai bagian dari program edukasi animal welfare ke sekolah-sekolah dasar dan menengah.

(rns/rns)